Kamis, 13 September 2012

Pemprov Bentuk Tim Dokter Layani Veteran



Kamis, 13 September 2012

MAKASSAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel mewacanakan akan membentuk tim dokter untuk memberikan pelayanan dan memeriksa kesehatan para legiun veteran yang tersebar di 24 kabupaten/ kota.


Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, program pelayanan kesehatan terhadap para pejuang veteran tersebut dilakukan dengan mendatangi secara rutin rumah para veteran. Hal ini untuk mengoptimalkan program layanan kesehatan masyarakat, khususnya para veteran yang telah berjuang untuk kemerdekaan RI di masa lalu. “Kita lihat sekarang, ratarata veteran itu umurnya sudah mencapai 80 tahun. Makanya kita programkan ini, sehingga jika ada veteran yang sakit,tim dokter bisa bergerak langsung ke rumah masing-masing veteran ini,” jelasnya usai membuka rapat koordinasi Pelayanan PT Askes kepada para veteran di Hotel Grand Clarion Makassar, kemarin.

Karena itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan berkoordinasi dengan para ketua legiun veteran di seluruh kabupaten/ kota, untuk mengetahui jumlah keseluruhan veteran pejuang di Sulsel.Menurutnya, program tersebut untuk saat ini telah berjalan di Kabupaten Bantaeng dan pelayanan dokter melayani langsung ke rumah para veteran. Selain itu, program ini, kata Agus, bukan hanya melayani para veteran, tetapi juga melayani masyarakat umum,khususnya kepada mereka yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Sementara itu, Kepala Group Manager Kepesertaan dan Pemasaran PT Askes Andayani Budi Lestari menyatakan, program layanan kesehatan yang digagasnya tersebut bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan RI.Para legiun veteran ini juga akan mendapatkan layanan kesehatan Kelas I, dan bisa terlayani di seluruh Rumah Sakit (RS) di Sulsel, serta RS TNI dan RS Polri. Masing-masing veteran juga akan mendapatkan satu buah kartu, dan khusus keluarganya juga memperoleh satu kartu Askes.

“Hak kelas veteran di Kelas I. Apabila pasien memilih ruang di kelas lebih tinggi, maka perlu membayar selisihnya. Kita imbau para veteran berobat di RS yang memiliki kerjasama dengan PT Askes,” jelasnya kemarin. ● wahyudi 

Read More >>

Rabu, 12 September 2012

Tunggu RUPS Imperial



RABU, 12 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR,  – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel masih menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Hotel Imperial Aryaduta sebagai legalitas persetujuan pembangunan hotel kerja sama pemprov dengan Imperial.
Hasil RUPS ini juga akan menjadi rujukan dalam kompensasi pelepasan saham Pemprov Sulsel di Imperial Aryaduta.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Andi Muallim, menjelaskan, pada prinsipnya, pelepasan saham pemda dengan pembangunan hotel sudah disepakati dengan PT Lippo Karawaci sebagai pemegang saham terbesar Hotel Imperial Aryaduta.
Hanya saja, kesepakatan yang telah dibahas selama sekitar satu tahun ini, belakangan disebut masih perlu persetujuan secara formal dari internal pemegang saham.
“Kami sudah sepakat bahwa Rp8,8 miliar itu sebagai nilai saham di sana, untuk diganti dengan pembangunan hotel. Inilah lucunya, karena satu tahun kita sudah bahas dan sudah final, terakhir mereka katakan harus mendapat persetujuan RUPS,” jelas Muallim di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 11 September.
Terkait agenda RUPS ini, Muallim berharap supaya bisa secepatnya dilakukan agar semuanya bisa lebih jelas.  “Rups ini kan bisa dilakukan melalui rapat istimewa khusus membahas ini saja,” harapnya.
Apalagi, kata dia, substansi persoalan tersebut sebenarnya sudah dilakukan pembicaraan awal dengan pemegang saham.  “Artinya substansinya sudah oke, tetapi formalnya untuk melepas saham harus melalui RUPS,” terangnya.
Dalam kesepatakan sebelumnya, tambah Muallim, PT Lippo Karawaci sebagai pemegang saham terbesar Hotel Imperial Aryaduta, akan melepas saham Pemprov Sulsel dengan kompensasi pembangunan hotel di atas lahan yang telah disiapkan pemprov.
Sebelumnya,  PT Lippo berencana membangun hotel di salah satu lahan milik pemprov di Jalan Masjid Raya, Makassar. Lahan yang disiapkan Pemprov Sulsel untuk pembangunan hotel seluas tiga hectare ini dinilai cukup untuk membangun hotel berbintang tiga berlantai empat serta memiliki 100 kamar. (eky/ism)
Read More >>

7 Negara Hadiri Kongres Bahasa



Rabu, 12 September 2012
MAKASSAR – Pemprov Sulsel bekerjasama dengan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah di Sulsel,Oktober 2012 mendatang. 


Kongres yang digelar untuk kedua kalinya ini rencananya dihadiri peneliti dan pakar bahasa daerah Sulsel dari tujuh negara masing-masing Korea Selatan, Brunei Darussalam, Amerika Serikat, Jepang, Belanda,dan Singapura. Sekretaris Badan Bahasa Kemendikbud Yeyen Maryani mengungkapkan, kongres tersebut dilaksanakan sebagai upaya pemerintah dalam mengatasi ancaman punahnya bahasa daerah yang ada di Sulsel. Sejauh ini ada empat bahasa lokal yakni Bahasa Makassar, Bugis,Toraja, dan Bahasa Mandar. Jika tak terus dilestarikan, maka ancaman kepunahan pun tak dapat terhindarkan.

“Eksistensi bahasa lokal harus tetap dijaga agar menjadi identitas lokal.Inilah tanggung jawab pemprov, dan kabupaten/ kota di Sulsel,” jelasnya di Makassar kemarin. Kongres Internasional Bahasa- bahasa Daerah di Sulsel akan digelar selama empat hari di Hotel Sahid Jaya Makassar, mulai 1-4 Oktober 2012, dan dibuka oleh Mendikbud Muhammad Nuh. Terpisah, Ketua Panitia Kongres Internasional Bahasa Daerah Sulsel A Muallim menjelaskan, kongres yang akan digelar ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya setelah 2007 lalu.

“Pada kongres pertama lalu,kita menyepakati 11 rekomendasi untuk antisipasi punahnya bahasa daerah Sulsel. Sekarang waktunya kita evaluasi itu,”jelasnya. Muallim yang juga Sekprov Sulsel ini mengatakan,pelestarian Bahasa Bugis, Makassar, Toraja, serta Mandar sudah menjadi harga mati bagi seluruh warga di Sulsel. ● wahyudi 

Read More >>

Wapres Puji Kinerja Keuangan Pemprov



Rabu, 12 September 2012
MAKASSAR, –Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, Boediono memberikan apresiasi dan pujiannya kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota serta provinsi se-Indonesia yang berhasil meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Apresiasi khusus ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sulsel, yang telah berhasil meraih predikat WTP dua tahun berturut-turut, yakni pada 2010 dan 2011.
Oleh karena itu, mantan Gubernur BI ini tak tanggung-tanggung memberikan apresiasi dan penghargaan serta pujiannya kepada Pemprov Sulsel melalui Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, saat mewakili Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menerima penghargaan WTP dari Kementerian Keuangan, Selasa (11/9) di Jakarta. “Pak Wapres bilang WTP adalah hasil dari kerja dalam pengelolaan keuangan dalam satu tahun anggaran. Dan Pemprov Sulsel bisa mendapatkan itu, ini adalah hal yang luar biasa,” kata Agus usai menerima penghargaan WTP tersebut.
Menurut Wapres, seperti yang diungkapkan Wagub, pemerintah pusat menargetkan 60 persen dari 500 lebih provinsi, kabupaten/kota, yang harusnya mendapat penilaian WTP. Itu artinya sekitar 300 pemerintah kota/kabupaten dan pemprov harus berlabel WTP. Tapi kenyataannya tahun ini menurut Boediono, di Indonesia baru 67 kabupaten/kota yang berhasil mendatapkan predikat WTP, termasuk 10 pemerintah provinsi termasuk di dalamnya Pemprov Sulsel. “Ini menjadi prestasi yang harus kita pertahankan,” kata Agus.
Sementara Wakil Presiden Boediono dalam sambutannya mengatakan, pemberian penghargaan ini sebagai apresiasi kepada daerah dalam hal pengelolaan keuangan agar semakin meningkatkan kinerjanya. “Keuangan negara sangat menentukan hancur suatu negara. Untuk itu mari kita jaga dan tingkatkan pengelolaan keuangan,” katanya. Ia menambahkan, saat ini ada kemajuan dalam hal pengelolaan keuangan dibanding tahun sebelumnya. Target pemerintah dimana pada tahun 2014, semua instansi pemerintah pusat 100 persen WTP. (mg10/ade)
Read More >>

Pemprov Harap Bahasa­ Daerah ­Dilestarikan



RABU, 12 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR, — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel bersama seluruh elemen terkait siap menggelar kongres bahasa sebagai salah satu upaya melestarikan bahasa daerah khas Sulsel yang terancam punah.
Bahasa dan sastra daerah selama ini dianggap se­bagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Kenyataan inilah yang menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengajak masyarakat bersama semua elemen terkait, untuk kembali menggelorakan pelestarian bahasa dan satra sebagai identitas daerah.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Andi Muallim, mengatakan, punahnya bahasa dan sastra daerah karena tidak lagi diajarkan di tingkat sekolah dasar (SD), padahal bahasa daerah diajarkan dalam muatan lokal.
Muallim juga mengaku, seharusnya bahasa daerah tetap diperkenalkan sejak dini mulai di tingkat taman kanak-kanak.
“TK menjadi pembunuh bahasa daerah, karena saat di TK, tingkat kepekaan anak sangat tinggi tetapi tidak diajarkan bahasa daerah. Akibatnya, bahasa daerah tak lagi dipahami anak-anak,” katanya dalam rapat panitia Kongres Bahasa-bahasa Daerah Sulsel II tahun 2012, di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 11 September.
Selaku ketua kongres, Muallim menegaskan, saat ini bahasa daerah sudah berada diambang kepunahan. Itu dibuktikan dengan tidak adanya lagi kepedulian dan pengetahuan generasi muda terhadap bahasa daerahnya masing-masing.
“Kongres kedua ini untuk mengulangi kesuksesan kongres yang pertama. Di mana, kongres pertama telah menelorkan 11 rekomendasi untuk menjaga bahasa daerah tetap lestari. Kongres kali ini tujuannya tetap sama, yakni untuk melestarikan dan melindungi bahasa-bahasa daerah yang kita miliki,” jelasnya.
Kongres ini akan menghadirkan 60 pemakalah dari luar dan dalam negeri dan rencananya akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI. Kongres akan digelar di Hotel Sahid Makassar, 1-4 Oktober mendatang.
Sementara, Sekretaris Badan Bahasa Kemendiknas, Yeyen Maryani mengungkapkan, kehilangan bahasa lokal merupakan kehilangan sebuah bahasa kesukuan. Sehingga dibutuhkan suatu langkah untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur tersebut. (eky/ism)
Read More >>

Sulsel Siap Tuan Rumah PON 2020



Rabu, 12 September 2012 
Syahrul Pimpin Defile Kontingen 

PEKANBARU, FAJAR -- Sulawesi Selatan ingin mengulang sejarah tahun 1957. Saat itu, Makassar ditunjuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON). Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap kesempatan itu datang lagi pada tahun 2020.

Sejauh ini, ada dua provinsi yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah PON XX tersebut. Selain Sulsel, Daerah Istimewa Aceh juga punya keinginan yang sama. Kehadiran Syahrul di Riau bermisi ganda. Selain menghadiri upacara pembukaan, dia juga meninjau sejumlah venue.

Peninjauan terhadap sejumlahvenue itu adalah bagian dari keseriusan Sulsel untuk menjadi tuan rumah PON. Persiapan Riau akan dijadikan bahan rujukan untuk menyiapkan pesta olahraga empat tahunan itu di Makassar.
"Kita siap jadi tuan rumah PON. Makanya, Pak Syahrul melihat seperti apa kesiapan venue di Riau," kata Sekretaris Umum KONI Sulsel, Nukhrawi Nawir, Selasa, 11 September.

Syahrul, kata Nukhrawi, sudah mengutarakan keinginan itu kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Untuk memuluskan keinginan tersebut, mulai tahun depan, Pemerintah Provinsi Sulsel akan membangun beberapa venue berstandar nasional dan internasional yang akan digunakan pada PON XX tersebut.

Pada upacara pembukaan PON malam tadi, Syahrul memimpin langsung defile kontingen Sulsel di Stadion Utama Riau. "Saya mau memberikan dukungan langsung kepada para atlet. Sebagai komandan,saya harus turun merasakan sendiri seperti apa arena pertempuran itu," ujarnya.

Pada PON kali ini, Sulsel membawa 225 atlet dan mengikuti 37 cabang olahraga. Karateka peraih medali emas kelas kumite -84 kilogram, Hendro Salim tampil di barisan paling depan. Dia mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar.
Tetapi, Syahrul merasa kecewa karena suporter dari warga Bugis-Makassar tidak kelihatan sama sekali. Padahal, sudah disiapkan 500 lembar baju kaus untuk dibagikan. Ternyata, tidak ada yang datang mendukung. Syahrul sempat mencari tahu siapa saja pejabat di Pekanbaru yang merupakan warga Sulsel.

"Saya kecewa. Tetapi, kita harus tetap semangat meraih hasil yang lebih baik dibanding PON sebelumnya. Saya melihat, kondisi semua atlet sangat prima dan tekadnya kuat meraih juara," paparnya.

Jika sebelumnya, mantan bupati Gowa itu mengaku enggan menjanjikan bonus kepada peraih medali, kemarin Syahrul mengatakan atlet yang berprestasi tetap akan mendapat bonus. "Nilainya tidak usah dipublikasi yang jelas kita akan berikan penghargaan," ujar Syahrul yang sempat membawakan kuliah umum di Universitas Lancang Kuning, Riau, Selasa siang.

Koordinator kontingen Sulsel, Ellong Tjandra mengaku sudah bertemu dengan pengurus KKSS Riau. Tetapi, mereka mengaku tidak bisa mengerahkan suporter karena banyak yang terlibat dalam kepanitiaan di PON.
"Jadi, baju kaos dibagi kepada atlet saja menjadi suporter karena pihak KKSS tak bisa memberikan bantuan. Sementara kontingen lain cukup banyak suporternya," keluhnya.

Pelaksana tugas Ketua Umum KONI Sulsel, Andi Darussalam Tabusalla (ADS) mengatakan, soal dukungan pihaknya tetap berharap banyak saat hari libur. "Nanti libur kerja akan dikerahkan suporter warga Bugis-Makassar," katanya.
Ketua KKSS Riau, Yusuf Daeng mengaku sudah mengimbau warga Bugis-Makassar yang jumlahnya 500 orang. Tetapi, kebanyakan sibuk bertugas di PON dan bekerja. (ram/sil)
Read More >>

Reward WTP Dialokasikan untuk Perbaikan Jalan di Sulsel



Rabu, 12 September 2012

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel kembali mendapat penghargaan nasional. Kali ini,Kementerian Keuangan memberikan penghargaan menyusul keberhasilan Pemprov Sulsel meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas pengelolaan laporan keuangan daerah sebanyak dua kali secara berturut-turut.


Penghargaan tersebut diserahkanlangsungoleh WakilPresiden, Boediono kepada Wakil Gubernur (Wagub) Sulsel Agus Arifin Nu’mang di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta,kemarin.Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Akutansi dan Pelaporan Keuangan PemerintahTahun 2012. Wagub Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, prestasi Sulsel dibidang pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan diganjar dengan rewarddari pemerintah pusat berupa pemberian obligasi.

”Apresisasi dari predikat WTP adalah Sulsel bisa mendapatkan obligasi dari pemerintah pusat. Karena itu Sulsel sementara mengajukan pinjaman ke Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebesar Rp500 miliar,”tutur Agus. Mantan Ketua DPRD Sulsel ini mengatakan, usulan pinjaman tersebut sudah dibahas di Dewan Perwakilan Rakya (DPR). Secara teknis, penggunaan uang sudah disiapkan untuk perbaikan ruas jalan provinsi dan pembangunan jalan baru.

”Budget jalan hanya Rp300 miliar dalam APBD. Sementara jalan provinsi sekitar 1.270 kilometer dengan biaya pemeliharaan Rp300 miliar. Jika dana ini cair, tentunya akan mempercepat perbaikan jalan. Sebab, sejak reformasi tidak ada perbaikan jalan,” jelasnya. Agus menyebutkan jika selama 10 tahun terakhir ini,masih ada jalan yang tidak pernah tersentuh perbaikan. Dengan adanya pinjaman itu, pekerjaan bisa dipercepat.“Kalau punya Rp300 miliar, bisa perbaikan.Tahun depan jalan bisa lebih mulus,”tegasnya.

Diketahui, predikat WTP merupakan penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas pengelolaan keuangan daerah. Sulsel mampu meraih predikat tersebut terhitung 2011 lalu.”Penghargaan ini penilaian setiap tahun dan sulsel adalah penghargaan kedua. Ada beberapa provinsi seperti Riau yang meraih WTP tapi tahun ini tidak dapat.Karena itu, predikat yang diraih Sulsel harus terus dijaga agar opini wtp BPK terhadap pengelolaan keuangan bisa dipertahankan,” harapnya.

Untuk predikat tahun anggaran 2012, lanjut Agus, pihak Pemprov Sulsel tetap terus berusaha untuk mempertahankan predikat WTP. ”Kendati ada eventpilgub,tidak akan terjadi penurunan kinerja,sistem kita sudah jalan dan baku.BPK bisa melakukan pemeriksaan secara periodik dan mengetahui pagu anggaran.BPK tahu jika ada yang terlambat melakukan tender dan mengajukan teguran. Selama ini asset, tapi sisa diperbaiki neracanya.Pembelian, pemutihan diperbaiki neracanya,” tandasnya. ● abriandi
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/525871/
 
Read More >>

Selasa, 11 September 2012

Wagub Sulsel Terima Penghargaan WTP



Selasa, 11 September 2012
MAKASSAR – Setelah meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan hasil pemeriksaan APBD 2011 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),Pemprov Sulsel kembali memperoleh apresiasi serupa.
Kali ini, Kementerian Keuangan akan memberikan penghargaan WTP yang rencananya akan diserahkan Wakil Presiden Boediono di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, hari ini.Penghargaan atas pelaporan keuangan tersebut akan diterima Wakil GubernurSulsel Agus ArifinNu’mang. ”Jadi BPK hanya memberikan predikat laporan berupa WTP, dan besok (hari ini) giliran Kementerian Keuangan yang memberikan penghargaan kepada pemprov Sulsel sebagai bentuk apresiasi setelah pemprov berhasil menata dan mengelola keuangan daerah secara benar,

”ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel Agus Sumantri kepada SINDOtadi malam. Penghargaan ini menambah sederet penghargaan yang diperoleh Pemprov Sulsel dari pemerintah pusat. Sekadar diketahui, Pemerintah Provinsi Sulsel berturut-turut memperoleh predikat WTP dari BPK untuk 2010 dan 2011.Sebelumnya, untuk APBD 2009 Pemprov Sulsel mendapatkan Wajar Dengan Pengecualian (WDP). ● jumardin akas 

Read More >>

Wagub Sulsel Terima Tim Yokohama



Pemerintah Jepang melalui tim Yokohama siap melakukan kerjasama dengan Provinsi Sulsel untuk pengembangan tata perkotaan. Sulsel memang layak untuk dilakukan kerjasama pada sektor perkotaan, lantaran potensi daerah ini sangat baik untuk perekonomian. Apalagi, Sulsel telah menjelma menjadi daerah pusat ekonomi di Indonesia Timur. Hal ini dikatakan Ketua Tim Internasional Techinal Cooperation of Division Yokohama, Jepang, Kimihoro Kuromizu, Senin, 10 September 2012 usai bertemu dengan Wakil Gubernur Sulsel, H. Agus Arifin Nu’mang.

Menurut Kimihoro, daerah ini cocok untuk dilakukan kerjasama pengembangan perkotaan. Potensi daerah ini cukup baik untuk itu. Apalagi dari segi perkembangan ekonomi, Sulsel telah menjadi pusat ekonomi Indonesia Timur. Dia juga menjelaskan Pemerintah Sulsel dengan Pemerintah Jepang memang telah lama terjalin melalui beberapa kerja sama. Dan yang saat ini sementara dikerjasamakan adalah pengembangan wilayah perkotaan Makasssar-Maros-Sungguminasa-Takalar atau Mamminasata.

Bahkan tim Yokohama ini mengaku kagum dengan Potensi yang dimiliki daerah ini. Sebab itu pula, pihaknya menyampaikan keinginannya untuk segera menindaklanjuti kerja sama untuk membangun perkotaan di Sulsel tanpa merusak lingkungan.

Sementara, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang berharap, kunjungan tersebut akan menjadi awal yang positif bagi Sulsel dalam upaya melakukan percepatan pembangunan. Kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kita, dan  berharap hasilnya akan membawa sesuatu yang positif.

Dalam kesempatan itu, Agus juga menyampaikan kondisi perekonomian Sulsel dalam empat tahun terakhir yang mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hanya ini menimbulkan sedikit masalah dalam suasana perkotaan, misalnya beberapa titik biasa terjadi kemacetan. Itu karena jumlah kendaraan yang makin bertambah.
Read More >>

Senin, 10 September 2012

Pusat Anggarkan Reklamasi CPI Rp23,9 M



Senin, 10 September 2012


MAKASSAR – Pemerintah Pusat tahun ini mengalokasikan anggaran Rp23,9 miliar untuk pengembangan Center Poin of Indonesia (CPI). Anggaran tersebut dari APBN melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang.



Anggaran tersebut masuk dalam program pengamanan abrasi Pantai Tanjung Bunga. “Itu bukan reklamasi pantai, tetapi pengamanan abrasi pantai,” kata Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel Soeprapto di Makassar,kemarin. Saat ini, ratusan pekerja sedang memasang tiang pancang melingkar di sepanjang lepas Pantai Tanjung Bunga mulai dari depan Pulau Laelae sampai depan anjungan bahari Pantai Losari.

Di depan anjungan bahari sudah terpasang goronggorong yang diisi dengan cor sepanjang 30 meter menghadap lurus ke Makassar Golden Hotel (MGH). Di ujung gorong-gorong, sekitar 200 meter depan anjungan Toraja-Mandar juga terpancang sekitar 35 tiang beton bundar. Demikian juga di depan Pulau Laelae mulai dipasang penahan abrasi dari gorong-gorong, serta tiang beton bundar dan tiang beton pipih yang lebih banyak lagi.Tiang pancang bundar dan pipih tertanam dalam laut sekitar 250 meter dari bibir Pantai Tanjung Bunga.

Dalam area CPI juga, siaga enam mobil pemancang tiang,tiga eskavator,dua bulldozer serta kapal yang mengangkut mobil pemancang ke tengah laut. Ratusan tiang pancang bundar dan pipih terlihat berserakan di bibir Pantai Tanjung Bunga. Proyek pengamanan abrasi Pantai Tanjung Bunga dalam area CPI mulai dikerjakan April 2012 dengan masa kontrak 240 hari.Kontraktor yang memenangkan tender adalah PT Nindya Karya dan PT Karya Pancang.

Setelah pengamanan abrasi pantai selesai,proyek CPI akan memasuki tahap pembangunan berbagai fasilitas seperti wisma negara, masjid 99 tiang, lapangan new karebosi,dan pusat- pusat bisnis. Saat ini dalam area CPI sebelah timur tiang pancang, juga dibangun tanggul penahan ombak dengan menggunakan batu gunung.Tanggul tersebut sudah terbangun sekitar 300 meter dari bibir Pantai Tanjung Bunga. Di sebelah utara tanggul tersebut juga terjadi penimbunan laut, tidak jauh dari Gedung Trans Studio. ● supyan umar
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/525187/
Read More >>

Bantuan Pemprov ke Pemkot Rp43 M



Senin, 10 September 2012 

Terkait Pengelolaan Sampah di Makassar 

MAKASSAR,  -- Pernyataan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin yang menilai Pemprov Sulsel tidak pernah memberikan bantuan ke Pemkot Makassar dalam pengolahan sampah dibantah Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Distarkim) Sulsel. Pemprov bahkan menggelontorkan anggaran puluhan miliar untuk penanganan sampah di Makassar.

Kepala Bidang Air Bersih Distarkim Sulsel, Hasbul kepada FAJAR, Minggu, 9 September mengatakan  dalam periode tahun 2008-2012, bantuan pemprov yang diberikan ke Pemkot Makassar khusus untuk bidang pengolahan sampah dan perbaikan drainase sudah mencapai puluhan miliar.    Menurut Hasbul, amat keliru dan tidak benar jika Pemprov dinilai tidak memberikan perhatian ke Pemkot Makassar dalam penanganan sampah.

Hasbul menjelaskan, Pemprov telah menggelontorkan bantuan pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) serta pengadaan motor sampah senilai Rp19 miliar di sejumlah kelurahan di Makassar. Pemprov sambung Hasbul juga pernah menggelontorkan anggaran senilai Rp21 miliar untuk perbaikan drainase primer di sejumlah wilayah di kota ini, termasuk pembangunan pengolahan air limbah dan perbaikan sanitasi.

"Pembangunan TPA Tamangapa juga pernah kita bantu," sebutnya.
Pemprov juga kata Hasbul pernah memberikan bantuan ke Pemkot Makassar berupa alat pengeruk lumpur sebanyak dua unit senilai Rp3 miliar. Belum lagi bantuan lainnya dari SKPD lain. Dengan demikian ujarnya, apa yang dikemukakan Wali kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin bahwa Pemprov tidak bersinergi dengan Pemkot dalam pengelolaan sampah, sangat tidak benar.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin melontarkan pernyataan bahwa pemkot kurang mendapat perhatian dari pemprov untuk penanganan sampah. Berbeda dengan ibu kota provinsi lain seperti Surabaya di Jawa Timur yang mendapat support besar dari provinsi dalam penanganan kebersihan. (kas)


Sumber:: http://www.fajar.co.id/read-20120909192033-bantuan-pemprov-ke-pemkot-rp43-m
Read More >>

Sulsel di Peringkat Tujuh Nasional


Senin, 10 September 2012

MAKASSAR, –Humas KONI Provinsi Sulsel, Dahlan Abubakar menginformasikan hingga Minggu (9/9) kemarin, kontingen Sulsel saat ini masih berada pada peringkat 6 nasional, dengan torehan sementara satu medali emas. yaitu dari cabang dayung yang di peroleh Anwar Tarra yang berpasangan dengan Syahrul Syaputra.

Sementara itu, dari torehan satu medali emas yang diperoleh tim Sulsel, Koordinator Kota Kontingen PON Sulsel Ellong Tjandra, berharap dari torehan satu medali emas itu bisa bertambah lagi.

“Kita berharap emas pertama ini bisa memanggil emas-emas selanjutnya,” ujar Ellong. Untuk perolehan medali emas selanjutnya, kontingen Sulsel tentunya berharap banyak dari cabang olahraga karate, dimana kontingen Sulsel diperkuat oleh sejumlah karateka-karateka terbaiknya yang berhasil meraih medali emas pada SEA Games kemarin, seperti Faizal Zainuddin, Aswar dan FidelysLolobuas. (mg15)

Read More >>

Sabtu, 08 September 2012

Jerman Jajaki Investasi Pariwisata Sulsel



SABTU, 08 SEPTEMBER 2012

MAKASSAR,  – Pe­ngusaha asal Jerman, Gerhard Merkel, dari perusahaan Merkel & Von Schweinitz GmbH Business Partner, tertarik berinvestasi di Sulsel. Sasarannya adalah industri pariwisata dan perhotelan.
“Saya tertarik membangun resort dan mengembangkan pariwisata Sulsel,” kata Merkel, saat bertemu Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, di Rumah Jabatan Gubernur, Jumat, 7 September.
Merkel mengungkapkan, pihak­nya telah mengetahui jika Pemprov Sulsel telah memiliki kerjasama de­ngan Changi Airport Singapura. Karena itu, ia ingin menjajaki kerjasama dengan Pemprov Sulsel, khususnya dalam hal pengembangan pariwisata.
“Saya kira, Sulsel memiliki semua potensi, mulai dari laut, pegunungan, hingga budaya, yang memiliki daya tarik luar biasa,” ujarnya.
Sementara, Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, keputusan Gerhard Merkel untuk berinvestasi di Sulsel sudah tepat.
Pasalnya, kegiatan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia, terkoordinasi dari Sulsel. Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 8,64 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita bicara dari awal, kita bangun kerjasama yang holistik. Dimana saja, kalian boleh masuk,” ungkap Syahrul.
Ia menjelaskan, Sulsel memiliki Takabonerate yang merupakan taman laut yang sangat indah dan terkenal di seluruh dunia. Tidak hanya itu, ada pula Tana Toraja yang terkenal dengan wisata religinya, yang memiliki budaya yang eksotik.
“Mari kita sama-sama eksplorasi apa yang ada. Dan dari Sulsel ini, kita bisa koneksikan pariwisata kita ke Bali hingga Papua,” jelasnya.
Syahrul menuturkan, potensi pariwisata Sulsel semakin menjanjikan dengan dibukanya banyak jalur pe­nerbangan internasional dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Bahkan, ke depannya, di Taka Bonerate juga akan dibangun bandara agar wisatawan yang ingin melakukan diving atau menyelam disana, bisa dengan mudah tiba di lokasi.
“MoU dengan Changi Airport hingga saat ini masing berlangsung, tinggal kita follow up dengan langkah-langkah strategis selanjutnya,” pungkasnya. (eky/ami)
Read More >>

Wagub: Seko Jadi Kawasan Terpadu Spesifik



SABTU, 08 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR, – Kecamatan Seko Kabupaten Lutra akan dijadikan sentra produksi Gula Merah, mengingat lahan perkebunan tebu di wilayah dataran tinggi tersebut mencapai 300 Ha milik masyarakat.
Kecamatan yang memerlukan waktu tempuh selama empat jam dari Masamba itu pada musim kering ini, mayoritas masyarakatnya bercocok tanam.
Menurut Ketua Dewan Adat Seko, D Tandipaewa  ketika diterima oleh Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang di ruang kerjanya, Jumat, 7 September mengatakan, masalah utama yang dihadapi masyarakat Seko terutama dalam memasarkan hasil ta­namnya adalah transportasi.
Kecamatan Seko masih dalam kategori wilayah terisolir, karena jalan yang menghubungkan Seko dengan ibukota kabupaten belum dapat dilalui kendaraaan roda empat.
“Kami kesulitan dalam hal pemasaran hasil cocok tanam petani,” katanya.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Numang mengatakan bersedia membantu bibit tebu kepada masyarakat Seko untuk pengembangan gula merah. Menurut mantan Ketua DPRD Sulsel itu, Seko akan dijadikan kawasan pengembangan terpadu spesifik daerah, yaitu pengembangan produksi gula merah.
“Seko akan dijadikan kawasan terpadu spe­sifik daerah, karena memiliki kondisi wilayah yang berbeda dengan daerah lain, sehingga nantinya produk yang dihasilkan tidak ada saingannya di daerah lain”,kata Agus.
Agus juga menambahkan, pemprov akan membantu pabrik gula merah yang menggunakan bahan bakar serbuk hasil perasan tebu sehingga tidak terlalu berisiko tinggi terhadap biaya produksi, dibandingkan menggunakan bahan bakar LPG. (eky/ami)
Read More >>

Lutra Jadi Sentra Produksi Gula Merah



Sabtu, 08 September 2012

PEMPROV tengah merancang Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara (Lutra) menjadi sentra produksi gula merah di Sulsel. Daerah tersebut sangat mendukung mengingat tersedia lahan perkebunan tebu yang cukup luas, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan untuk memproduksi gula merah.

“Perkebunan tebu milik masyarakat di wilayah daratan tinggi di sana mencapai 300 hektare. Makanya kita merancang daerah ini menjadi sentra produksi gula merah,” kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang saat menerima kunjungan Ketua Dewan Adat Seko D Tandipaewa di Kantor Gubernur Sulsel kemarin.

Untuk tahap awal, pemprov siap membantu penyiapan bibit tebu kepada para masyarakat agar bisa dikembangkan. Agus juga mengaku akan memfasilitasi pengadaan tersebut. “Seko ini akan dijadikan kawasan terpadu spesifik daerah, karena memiliki kondisi wilayah yang berbeda dengan daerah lain. Sehingga, nantinya produk yang dihasilkan tidak ada saingannya dari daerah lain,” beber dia.

itu, Agus juga berjanji akan membantu pengadaan pabrik gula merah yang menggunakan bahan bakar dari hasil perasan tebu. Selain hemat biaya, hal ini juga menjadi penghasilan tambahan bagi para petani tebu.

Sementara itu, Tandipaewa mengatakan, masalah utama yang dihadapi masyarakat Seko terutama dalam memasarkan hasil bercocok tanamnya adalah masalah transportasi. Untuk menjangkau Kecamatan Seko, dibutuhkan waktu minimal empat jam dari ibu kota Lutra. Jalur tersebut hanya bisa dilalui motor. (wahyudi) 

Read More >>

Jumat, 07 September 2012

Sulsel Minta Tambahan Kuota CJH 2013



JUMAT, 07 SEPTEMBER 2012 


MAKASSAR,  - Pemerintah Provinsi Sulsel kembali meminta Ditjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama RI agar mempertimbangkan penambahan kuota haji Sulsel pada tahun 2013 mendatang.
Sekretaris Provinsi Sulsel Andi Muallim menyampaikan hal ter­sebut di depan Sekre­taris Ditjen PHU Ke­­menag, Cepi Supriat­na, yang menghadiri pe­lan­tikan Panitia Pe­nye­lenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar dan Meal Presentation 2012 di Hotel Clarion Makassar, Kamis, 6 September.
Kuota haji Provinsi Sulsel sebanyak 7.221 tahun 2012 ini. Jumlah ini dinilai tidak sebanding dengan jumlah daftar tunggu yang semakin tahun semakin membengkak.
Muallim menjelaskan, seharusnya Ditjen PHU mempertimbangkan daftar tunggu ja­maah haji yang mencapai sekitar 116 ribu orang, serta budaya di Sulsel tentang penyelenggaran ibadah haji yang disakralkan dan dibanggakan.
“Saya sampaikan ini agar Ditjen PHU mau meng­urus daftar kuota kita di Sulsel yang makin besar. Seharusnya, yang tertinggi daftar tunggunya serta budaya tentang haji ini dimasukkan sebagai indikator penentuan kuota haji. Kalau demikian, kami berharap kuota haji Sulsel tahun depan adalah yang tertinggi. Saya tantang Bapak menyelesaikan persoalan ini, karena kalau tidak pasti akan menumpuk,” tegas Muallim.
Apalagi, sambung mantan Kepala Inspektorat Sulsel ini, beberapa tahun belaka­ngan ini Sulsel merupakan daerah yang pemberangkatan umrahnya terbesar di dunia.
“Jumlah jamaah umrah di Sulsel terbesar di dunia, itu setiap tahun. Ini pertanda ada langkah hebat dari pemerintahnya,” katanya.
Khusus untuk pelayanan calon jamaah haji (CJH) tahun 2012 ini, Muallim meminta agar PPIH Sulsel melakukan evaluasi kegiatan pada tahun 2011 lalu.
“Itu agar tahun ini kita bisa menerapkan kembali pelayanan yang lebih baik, dan kalau sudah baik sebelumnya agar dipertahankan dan ditingkatkan lagi, termasuk soal pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Muallim juga secara langsung melantik Muhammad Gazali Suyuti yang juga Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, sebagai ketua PPIH Embarkasi Makassar yang berjumlah 21 orang.
Sementara itu,  Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Cepi Supriatna mengatakan, sebanyak 72 persen pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekkah berada pada radius di bawah 2.000 meter dari Masjidil Haram, atau menurun dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 93 persen. Jarak terjauh, sebagaimana ditargetkan, maksimal 2.500 meter.
“Pada 2011, jarak di bawah 2.000 meter sebanyak 93 persen, sedangkan pada tahun 2012 sudah menurun 72 persen,” kata Cepi.
Ia juga mengatakan bahwa proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia, akan dimulai dengan pemberangkatan kloter pertama, yakni pada 21 September 2012 dan 20 Oktober penerbangan seluruh embarkasi memasuki masa akhir.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, HM Gazali Suyuti, usai kegiat­an mengatakan,  Panitia Pe­nyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ini memiliki tugas memberikan pelayanan yang jauh lebih baik. Jadi di sini pihaknya akan menangani pemberangkatan dan pemulangan jamaah dan tak boleh ada yang tertinggal.
Dari segi komsumsi, semua nantinya akan betul-be­tul dijaga agar tetap steril, ja­ngan sampai kejadian seperti komsumsi bermasalah yang terjadi pada jamaah Negara lain yang sempat terjadi tahun lalu dialami oleh jamaah Sulsel.
“Untuk itu mulai dari berangkat hingga pemulangan nantinya, mengenai komsumsi terjamin steril,” katanya.
Ditanya soal harapannya untuk kuota haji tahun depan, Gazali berharap, agar kuota dapat lebih ditambahkan. Itu bukan saja mengenai harapan gubernur, tapi juga harapan seluruh masyarakat. Bagaimana tidak jumlah daftar tunggu calon jamaah haji reguler saat ini sudah ada sebanyak 100 ribu orang. Itu belum lagi CJH ONH Plus, di luar dari angka 100 ribu orang lebih itu.
“Kalau untuk Plus, mungkin 4-5 tahun menunggu, tapi untuk regular yang harus menunggu 14 tahun, kan kasihan terlalu lama menunggu. Kami sangat mengharapkan kuotanya dapat ditambahkan lagi,” tandas Gazali. (mg3/eky/ute)
Read More >>

Syahrul Ajak Siswa MAN I Makassar PAKUI



Jumat, 7 September 2012


MAKASSAR,  - Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengajak ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Makassar memakai prinsip PAKUI. Calon gubernur incumbent ini sesaat sebelum meresmikan Masjid Maulana Rauf, MAN I Makassar, di Jl Talasapang, Makassar, Jumat (07/09/2012).

Hadir ratusan siswa MAN I, orang tua masing-masing siswa, belasan guru MAN I, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Sayuti Gazali, Humas Kemenag Tonangm Cawidu dan beberapa tamu undangan lainnya.

"Anak-anak MAN ingat ajaran saya PAKUI, Pakui ini ajaran saya, memperbaiki karakter itu Pakui," ajak Syahrul saat memberi sambutan.

PAKUI adalah salah satu icon Syahrul sosialisasi Syahrul yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulsel ini menjelang pemilihan gubernur 22 Januari 2013. Pray (doa), Attitude (sikap), Knowledge (pengetahuan), ulet, dan impian disingkat PAKUI.

"Biasanya orang cerdas memilih sesamanya yang cerdas, pasti memilih orang cerdas," Syahrul menambahkan disambut aplaus siswa dan sejumlah guru.

Masih dalam sambutannya, mantan bupati Gowa ini juga mengajak kepada semua kalangan untuk beragama dengan baik. Menurut Syahrul, agama adalah rumus utama kehidupan yang beradab.(*)


Read More >>

Kamis, 06 September 2012

Penimbunan CPI - Penandatanganan PKS Pemprov-GMTD Molor



Kamis, 06 September 2012

MAKASSAR – Penandatanganan naskah perjanjian kerja sama (PKS) antara Pemprov Sulsel dan PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) terkait proyek penimbunan lahan Centre Point of Indonesia (CPI) yang dijadwalkan kemarin, kembali molor.

Belum diketahui alasan dibatalkannya penandatanganan PKS tersebut.Namun jauh hari sebelumnya, penandatanganan ini dijadwalkan di Baruga Sangiaseri Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, kemarin. Jadwal ini juga telah dimasukkan di Biro Humas dan Protokoler Pemprov Sulsel.

Kepala Biro Ekonomi Pemprov Sulsel Muhammad Firda yang dikonfirmasi SINDO mengaku tidak tahu menahu mengenai rencana penandatangan PKS proyek penimbunan CPI, yang menelan investasi hingga Rp2 triliun ini. “Saya tak tahu kalau ada penandatanganan PKS hari ini. Coba cek ulang di Bagian Protokoler Pemprov,” kata Firda kepada wartawan kemarin.

Dia beralasan, sebelum penandatanganan PKS,pihaknya terlebih dahulu harus menyepakati bagi hasil dengan PT GMTD terkait penimbunan di kawasan CPI. Sebelumnya pemprov dan GMTD menyepakati kompensasi 80%-30% terkait penimbunan CPI.Namun karena adanya penambahan cost, pihak GMTD mengusulkan penambahan kompensasi 2% atas penimbunan itu. “Sampai sekarang belum ada kesepakatan mengenai kompensasi itu. Kalau itu sudah selesai,kita laksanakan penandatangan PKS,”beber dia.

Sementara itu, pengerjaan proyek tembok laut dan pengamanan pantai di kawasan CPI Makassar telah dimulai saat ini. Proyek ini menggunakan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) sebesar Rp25 miliar melalui APBN 2012.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel Soeprapto Budi Santoso mengungkapkan,saat ini telah ada beberapa pemasangan tiang pancang dan pengamanan pantai di sekitar lokasi. Soeprapto menyebutkan, pemasangan tembok laut dan pengamanan pantai untuk memperkokoh lahan CPI, khususnya di areal pembangunan plaza Karebosi Baru,yang nantinya didirikan di tengah-tengah kawasan jualan Pemprov Sulsel ini.

“Kita sudah mulai pengerjaannya. Insya Allah untuk plaza utamanya akan rampung tahun ini juga. Sehingga, tahun berikutnya kita sisa melanjutkan yang lain-lainya di CPI,”jelasnya. wahyudi

Read More >>

Hari ini, Kontingen Terbesar PON XVII Sulsel Berangkat



Kamis, 6 September 2012 
rombongan-PON.jpg
Makassar-Sebanyak 150 atlet yang akan berlaga di pada perhelatan PON XVIII di Pekanbaru berangkat hari ini, Kamis (6/9/2012). Sebelum bertolak ke Pekanbaru, Riau Rombongan yang  dipimpin langsung Koordinator Wilayah Ellong Tjandra akan transit di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 

Rombongan ini merupakan rombongan Kontingen Sulsel terbesar setelah beberapa cabang olahraga  telah berangkat dari tempat Training Centre-nya masing-masing langsung ke Riau beberapa hari sebelumnya. (*)

Read More >>

Menteri LH: SYL Luar Biasa



KAMIS, 06 SEPTEMBER 2012 

alt
MAKASSAR,  – Menteri Lingkungan Hidup Beerth Kambuaya menilai Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo sebagai orang yang ekstra ordinary person atau orang yang memiliki kemampuan di atas manusia biasa dengan kata lain luar biasa.
“Pak Syahrul itu ekstra ordinary person, sangat luar biasa. Jadi, jangan coba-coba jadi Gubernur Sulsel kalau belum bisa menyaingi kemampuan beliau. Tidak gampang menjadi Gubernur Sulsel,” kata Beerth di sela-sela pembekalan lingkungan hidup bagi pramuka, kerja
sama Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua, Kementrian Lingkungan Hidup dengan Kwartir Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan di Hotel Aryaduta, Makassar, Rabu, 5 September.
Menurutnya, Syahrul adalah pemimpin yang punya komitmen tegas dan jelas terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pasalnya, pendidikan dan kesehatan akan baik jika lingkungan baik.
“Kalau ada pemilihan kepala daerah, pilih yang care (peduli) terhadap lingkungan. Kalau saya orang Sulsel, saya akan pilih lagi Pak Syahrul,” ujarnya.
Dijelaskan, pelayanan publik termasuk menghadirkan lingkungan yang baik, merupakan tanggung jawab kepala daerah. Warga harus minum air yang bersih dan menghirup udara yang bebas polusi.
“Semua itu menjadi tanggung jawab kepala daerah. Jangan sekali-kali pilih pemimpin yang tidak care terhadap lingkungan karena dampaknya besar,” imbaunya.
Sementara itu, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengatakan, semua orang harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, termasuk Pramuka. “Sebagai warga negara, kita tidak boleh merugikan atau mengkorupsi apa yang ada di negeri ini,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, dalam 4 tahun terakhir, di Sulsel telah ditanam 125 juta pohon. Ia meyakini, memperbaiki lingkungan harus diubah dengan agenda intelektual, manajemen agenda, dan perilaku yang baik.
“Di Sulsel ini, RAB/RAK pembangunan jalan harus disertai dengan penanaman pohon dan tercantumkan anggarannya,” ungkapnya.
Tidak hanya di daerah dataran rendah, kata Syahrul, dataran tinggi dan pegunungan bahkan daerah-daerah yang sulit dijangkau juga dilakukan penghijauan dengan menggunakan program airseeding. Dana yang disiapkan untuk uji coba sebesar Rp20 miliar.
“Yang di atas gunung pun harus ditanami. Karena itu, harus dipantau dan dikendalikan,” tutur mantan Bupati Gowa dua periode ini.
Sebagai Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka, Syahrul berharap, organisasi tersebut ada di setiap sekolah dengan program utamanya penanaman pohon.
“Pramuka harus diajarkan cara-cara membibit dan harus ada instruktur di tiap kecamatan. Kita lakukan pelatihan melakukan pembibitan untuk hutan dan lingkungan hidup. Harus ada target, jangan sampai pelatihan itu menguap,” urainya. (mg3/eky/ute)

Read More >>