Selasa, 18 September 2012

JK Puji Kepemimpinan Syahrul



SELASA, 18 SEPTEMBER 2012 

alt
SYL Kuliahi Maba STKIP Muhammadiyah Bone

BONE, CAKRAWALA - Mantan Wakil Presiden RI Muh Jusuf Kalla (JK) memuji kepribadian Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL). Ia menilai Syahrul memiliki tiga kriteria pemimpin, yakni cerdas, jujur, dan pekerja keras.
“Semua orang bisa jadi pe­mimpin, tapi pemimpin yang ideal adalah yang memiliki otak yakni cerdas, punya hati atau jujur, dan punya otot atau pekerja keras. Dan Syahrul memiliki itu semua,” ungkap JK saat memberikan sambutan pada peresmian gedung SMP-SMA Islam Athirah Boarding School Bone di Jalan Sungai Musi, Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Senin, 17 September.
Selain peresmian gedung sekolah, kegiatan juga dirangkaikan peletakan batu pertama pembangunan masjid dan asrama di sekolah tersebut.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut meng­ungkapkan, pendidikan ha­rus mampu menciptakan ge­nerasi-generasi yang memiliki ketiga kriteria tersebut. Apalagi, jika ingin maju dan sukses, sumber utamanya terletak pada sektor pendidikan.
“Pemerintah sudah meng­anggarkan pendidikan dengan baik. Karena itu, tingkat pendidikan harus dijaga perkembangannya. Apalagi, pertumbuhannya berubah tiap tahunnya,” jelas Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) ini.
Jika lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, lanjut JK, generasi Indonesia akan ketinggalan. Pendidikan terus bergerak dinamis dengan segala perubahan yang ada.
“Beberapa tahun lalu, tingkat pendidikan di Sulsel rendah. Anak-anak kita susah bersaing masuk perguruan tinggi populer di Jawa. Masalahnya, ada di tingkatan dasar. Inilah yang sedang menjadi perhatian kami sehingga anak-anak kita bisa bersaing di tingkat pendidikan tinggi,” terangnya.
Ke depannya, Yayasan Athirah juga akan membangun sekolah kejuruan. Tujuannya, agar anak-anak dari Bone khususnya, dan Sulsel secara umum, tidak canggung atau rendah diri bersaing dengan siswa yang ada di daerah lain.
“Di Group Kalla, harus mendukung pendidikan sebesar-besarnya. Ini akan jadi fondasi yang kuat. Dari segi agama, pendidikan itu amal jariyah,” urainya.
JK menambahkan, Sulsel memiliki semua kekayaan alam, mulai pertanian hingga tambang. Tidak ada yang kurang. Tetapi, siapa yang bisa mengembangkan, tentu generasi-generasi yang memiliki otak, otot dan hati.
“Kita ingin membangun manusia-manusia yang cerdas dan punya hati serta mau bekerja keras,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengaku membanggakan JK sebagai sosok yang mampu menggambarkan karakter Bugis Makassar. Apalagi, saat menjabat Wakil Presiden RI hingga saat ini, JK telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembangunan di Indonesia.
“Kita berharap, ada yang bisa ditransfer ke kehidupan Sulsel yang lebih baik,” kata SYL.
SYLmenjelaskan, ada lima hal yang menjadi program utama di Sulsel. Agama harus jadi nafas masyarakat Sulsel, pendidikan yang berjalan baik, ekonomi menjadi kekuatan, kesehatan dan situasi yang kondusif. Sehingga, saat ini Sulsel menjadi barometer atau tolak ukur pertumbuhan nasional di seluruh dimensi.
“Ini bagian dari rintisan yang diwariskan Pak JK. Pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 8,64 persen dan menjadi great yang luar biasa,” jelasnya.
Mantan Bupati Gowa dua periode itu berharap, fasilitas pendidikan di Athirah harus menjadi andalan Sulsel, kebanggaan yang menjadi aset hari ini dan ke depan.
“Sebuah daerah hanya bisa jalan dengan baik kalau ada kedamaian. Ini juga yang diperlihatkan Pak JK dimana-mana. Di Sulsel, politik tetap jalan tapi kita tetap bersaudara,” pungkasnya.
Kuliah Perdana
Keberadaan Gubernur Syahrul Yasin Limpo di Kabupaten Bone juga dimanfaatkan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bone. SYL didaulat memberikan kuliah perdana kepada ratusan mahasiswa baru, Senin kemarin.
SYL mengaku bangga bisa menjadi dosen sementara karena ia bercita-cita menjadi seorang akademisi. “Saya ingin jadi akademisi. Ke depannya, nanti ingin jadi guru saja,” kata Ketua Partai Golkar Sulsel ini.
SYL mengungkapkan, se­tiap manusia tentunya ingin maju dan sukses. Untuk mencapainya, maka paradoksnya bertentangan dengan kenyamanan dan keluar dari zona aman.
“Maju, berkembang dan hidup lebih baik, membutuhkan tenaga, tekad yang lebih, kemauan, pengorbanan, waktu yang harus dikeluarkan, dan tenaga,” tegasnya.
Setiap manusia, lanjutnya, memiliki kekuatan untuk maju dan sukses. Yakni kekuatan akal, hati atau empati, pikiran dan kekuatan otot untuk bekerja keras. Kesemuanya harus didorong dengan spirit, kemauan dan tekad untuk mencapai harapan itu.
“Kurang apa negeri ini? Tapi, kenapa tidak bisa menjawab tantangan yang ada? Karena sumber daya manusianya. Gapai kemauanmu. Tekadmu terwujud hanya ada dua yang tentukan, dirimu sendiri dan Tuhan,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syahrul juga membeberkan konsep menggapai sukses, yakni PAKUI yang merupakan akronim dari Pray (Doa), Attitude (Karakter), Knowledge (Kecerdasan), Ulet, dan Impian.
Ketua STKIP Bone Jufri Rasyid menilai sosok SYL sebagai pemimpin yang cerdas dan sukses. Karena itu, ia mengaku bahagia dan bangga, Syahrul bisa membagi ilmunya kepada mahasiswa STKIP Muhammadiyah.
“Sejak kampus STKIP Muhammadiyah ini berdiri, baru kali ini didatangi gubernur dan bersedia memberikan kuliah perdana kepada para mahasiswa kami,” tuturnya. (*/kr4/ute)
Read More >>

JK: Syahrul Punya Tiga Kriteria Pemimpin




Bone, – Mantan Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla (JK) memuji kepribadian Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, Syahrul memiliki tiga kriteria pemimpin, yakni cerdas, jujur dan pekerja keras.

“Semua orang bisa jadi pemimpin, tapi pemimpin yang ideal adalah yang memiliki otak yakni cerdas, punya hati atau jujur dan punya otot atau pekerja keras. Dan Syahrul memiliki itu semua,” Ungkap JK, di sela-sela sambutannya pada acara Peresmian Gedung SMP SMA Islam Athirah Boarding School Bone dan Peletakan Batu Pertama Masjid dan Asrama SMP-SMA Islam Athirah Boarding School Bone, di Jalan Sungai Musi, Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Senin (17/9).

JK mengungkapkan, pendidikan harus mampu menciptakan generasi-generasi yang memiliki ketiga kriteria tersebut. Apalagi, jika ingin maju dan sukses, sumber utamanya terletak pada sektor pendidikan.

“Pemerintah sudah menganggarkan pendidikan dengan baik. Karena itu, tingkat pendidikan harus dijaga perkembangannya. Apalagi, pertumbuhannya berubah tiap tahunnya,” Ungkapnya.

Jika lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, lanjut JK, generasi Indonesia akan ketinggalan. Pendidikan terus bergerak dinamis dengan segala perubahan yang ada.

“Beberapa tahun lalu, tingkat pendidikan di Sulsel rendah. Anak-anak kita susah bersaing masuk perguruan tinggi populer di Jawa. Masalahnya, ada di tingkatan dasar. Inilah yang sedang menjadi perhatian kami sehingga anak-anak kita bisa bersaing di tingkat pendidikan tinggi,” Terangnya.

Ke depannya, Yayasan Athirah juga akan membangun sekolah kejuruan. Tujuannya, agar anak-anak dari Bone khususnya, dan Sulsel secara umum, tidak canggung atau rendah diri bersaing dengan siswa yang ada di daerah lain.

“Di Group Kalla, harus mendukung pendidikan sebesar-besarnya. Ini akan jadi fondasi yang kuat. Dari segi agama, pendidikan itu amal jariyah,” urainya.

JK menambahkan, Sulsel memiliki semua kekayaan alam, mulai pertanian hingga tambang. Tidak ada yang kurang. Tetapi, siapa yang bisa mengembangkan, tentu generasi-generasi yang memiliki otak, otot dan hati.

“Kita ingin membangun manusia-manusia yang cerdas dan punya hati serta mau bekerja keras,” pungkasnya. [KM/HMS]

Read More >>

SYL Sebut Koruptor Lebih Jahat Dari Teroris




Makassar, KM– Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, menyebut koruptor lebih jahat dari teroris. Pasalnya, jika teroris hanya mengakibatkan 200 atau 300 orang korban, tapi kalau yang dilakukan koruptor, merugikan rakyat dan bangsa. Itulah mengapa korupsi disejajarkan dengan pelanggaran HAM berat.

“Apakah korupsi lebih jahat dari teroris? Jawabnya, Ia. Kalau teroris hanya 200 atau 300 mati, tapi kalau yang dilakukan koruptor, merugikan rakyat dan bangsa. Sama dengan yang dilakukan Nazaruddin CS dan juga yang di Buol itu,” tegas Syahrul saat menjadi pembicara Sosialisasi Anti Korupsi Tahun 2012 “Putihkan Hati, Putihkan Negeri, Berantas Korupsi” yang dilaksanakan BPKP Perwakilan Provinsi Sulsel bekerjasama dengan Kanwil Kementrian Agama Sulsel dan UIN Alauddin, di Islamic Center UIN, Selasa (18/9).

Syahrul juga mengaku resah dengan pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan dirinya terkait pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya galau, berita-berita yang ada di KPK. KPK apa urusan saya? Apa salahku kasian? Kasusnya di Buol, yang ditangkap Bupatinya, dan saya setuju itu. Apa urusannya Syahrul di Sulteng, mau meringankankah mau memberatkankah, tidak ada urusannya. Apakah ini ada kaitannya dengan politik? Saya tidak tahu,” terangnya.

Tetapi, lanjutnya, selama dua tahun berturut-turut, Sulsel berhasil meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan great clean and clear. Artinya, tidak ada temuan apa-apa.

“Bagaimanakah yang disebut dengan korupsi? Jangan karena saya dipanggil saksi, kemudian dipolitisasi dengan pilkada seakan-akan saya yang korupsi. Yang namanya korupsi, kalau ada orang yang mau bangun ruko, diizinkan dibangun kalau ada diberi satu atau diberi izin untuk menimbun pantai asal ada jatahnya, itu korupsi namanya,” ungkapnya.

Gubernur menjelaskan, Indonesia adalah negara dan bangsa yang kekayaan alamnya tidak bisa dibandingkan dengan negara lain. Tetapi, negara yang baik hanya ditentukan tiga hal. Antara lain, hadirkan pemerintahan yang baik, berpihak pada rakyat dan tidak meladeni dirinya sendiri. Hadirkan ruang bagi bisnisman, pedagang dan industri tanpa kecemasan dan beban. Dan hadirkan kesadaran hukum masyarakat dan konsistensi pelaksana hukumnya.

“Yang dibutuhkan, pendekatan integritas nasional dan tanggung jawab. Karena itu, memang ada hal yang harus dibenahi. Kita membutuhkan pemerintah yang tidak korupsi,” pungkasnya.

Sementara, Kepala BPKP Hamonangan Simarmata, mengatakan, pihak BPKP sengaja meminta Syahrul Yasin Limpo sebagai pembicara antikorupsi karena komitmennya dalam menciptakan pemerintahan yang bersih.

“Keberhasilan Sulsel akibat dari usaha yang keras dan bebas korupsi. Karenanya, saya meminta Pak Syahrul memberikan arahan,” imbuhnya. [KM/MS]

Read More >>

Daftar Perolehan Medali, Sulsel ke 7



Selasa, 18 September 2012 

PEKANBARU, -- DKI Jakarta untuk sementara memimpin daftar perolehan medali Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII 2012 di Riau. Hingga Senin (17/9/2012), DKI mengumpulkan 77 medali emas, 84 perak, dan 91 perunggu.

Posisi DKI belum aman dari kejaran rival beratnya, Jawa Barat, yang terus mengintai. Jabar, yang kerab berada di posisi teratas sejak event empat tahunan ini bergulir pada 9 September lalu, hanya terpaut 1 medali emas, meskipun mereka kalah dalam pengumpulan perak (60 keping) dan perunggu (86).

Sementara itu juara bertahan, Jawa Timur, ada di urutan ketiga dengan raihan 70 emas, 70 perak, dan 71 perunggu. Kalimantan Timur, yang kini berada di urutan keenam, mengancam tuan rumah karena mereka terpaut satu medali emas dari Riau, yang mengumpulkan 35 emas, 30 perak, 42 perunggu. Kaltim mendulang 34 emas, 35 perak, 36 perunggu.

- Daftar sementara perolehan medali (emas, perak, perunggu, total)
1. DKI JAKARTA                      77     84     91     252
2. JAWA BARAT                      76     60     86     222
3. JAWA TIMUR                       70     70     71     211
4. JAWA TENGAH                    38     35     51     124
5. RIAU                                   35     30     42     107
6. KALIMANTAN TIMUR            34     35     36     105
7. SULAWESI SELATAN           16     15     15     46
8. LAMPUNG                            15      7      9      31
9. SUMATERA UTARA               14     17     18     49
10. BALI                                  12      13     27     52

Sumber:  http://makassar.tribunnews.com/2012/09/18/daftar-perolehan-medali-sulsel-ke-7 
Read More >>

Senin, 17 September 2012

Kereta Api Mamminasata Beroperasi 2017



Senin, 17 September 2012
MAKASSAR– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) menargetkan angkutan massal berupa kereta api yang melintasi jalur Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar (Mamminasata) sudah bisa dioperasikan pada 2017.


Tahun ini hingga tahun depan, proses pembebasan lahan sudah dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Sulsel bekerjasama dengan instansi terkait. “2014 tahapan pembangunan mulai dari tender dan pengerjaan diharapkan dilakukan,sehingga 2017 masyarakat sudah bisa menggunakan kereta api,” kata Kepala Dishub Sulsel Masykur Sulthan di Makassar, kemarin.

Proyek yang membutuhkan investasi sekitar Rp4 triliun dan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut, sengaja diusahakan cepat selesai seiring kian padatnya aktifitas di Mamminasata. Namun anggaran tersebut masih belum termasuk pembebasan lahan. Penelitian yang dilakukan 2006 lalu menetapkan,di kawasan tersebut jumlah kendaraan telah mencapai 760.000 unit dengan pergerakan manusia mencapai 1,6 juta orang.

Diperkirakan pada 2015 mendatang kendaraan akan menjadi 1,2 juta unit dengan pergerakan manusia 2,2 juta kali. “Tetapi baru di 2012 jumlah kendaraan sudah mencapai 1,2 juta unit dan pergerakan hampir 3 juta kali dalam sehari.Bisa dibayangkan 2015 mendatang kondisi Makassar akan seperti apa jika tidak segera dibuat angkutan massal yang tepat sasaran,”kata dia.

Dengan akan diberlakukannya angkutan massal di kawasan Mamminasata, diharapkan perekonomian di daerah ini akan kian berkembang. Apalagi transportasi dan jalan merupakan urat nadi kehidupan. ”Terlebih bagi kota besar yang mengembangkan konsep jasa dan industri seperti Makassar ini,”katanya.

Masykur mengatakan, untuk jalur kereta api di Mamminasata akan banyak dibangun tempat-tempat persinggahan, karena jalurnya melayani jalur pendek.Walau panjang relnya masih lebih panjang dari jalur trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar-Parepare. “Panjang rel kereta api Mamminasata 200 kilometer, sementara Makassar-Parepare hanya 155 kilometer.Tetapi rel kereta api Mamminasata berkelok- kelok sehingga relnya panjang,”ujar Masykur.

Percepatan pembangunan rel kereta api di Mamminasata telah sesuai dengan ketetapan rapat kabinet DPR RI 2011 lalu, di mana Makassar masuk dalam lima kota di Indonesia yang harus diperhatikan transportasinya terutama soal kemacetan. Empat kota lain yang menjadi prioritas adalah Jakarta, Surabaya,Bali dan Medan. Melihat hasil studi penetapan jalur pembangunan jalan kereta api yang dilakukan oleh PT Aulia Sakti Internasional dan dijadikan dasar Dishub Sulsel, ada tiga usulan koridor yang akan dilalui jalur kereta api.

Di antaranya, koridor satu dari Takalar-Sungguminasa– Pacuan Kuda–Jalan Ratungi– Jalan Sudirman–Karebosi–Jalan Cokroaminoto–New Port– Jalan Insinyur Sutami lalu ke Bandara dan Maros. Sementara koridor dua dari Takalar akan melintas di Jalan AP Pettarani ke Jalan Urip Sumoharjo terus Jalan Perintis,Bandara lalu Maros.

Sementara koridor tiga akan dimulai di kawasan GMTD lalu ke kawasan Pacuan Kuda,masuk Jalan Daeng Tata, tembus Jalan Jalan Dangko- Manunggal–Central Point of Indonesia–Pattimura–Karebosi, lalu melalui Jalan Bawakaraeng dan berakhir di Jalan Urip Sumoharjo. Dari ketiga koridor itu, beberapa di antaranya akan menggunakan stasiun bawah tanah.

Seperti yang akan dibuat di kawasan Maros, yang nantinya juga berfungsi sebagai stasiun pusat jalur kereta api. Untuk teknologi dan jenis kereta api yang akan digunakan, kemungkinan besar Pemprov Sulsel menggunakan teknologi asal China. rahmat hardiansya 

Read More >>

Sabtu, 15 September 2012

Transaksi Ekonomi Menurun Akibat Isu Rusuh



SABTU, 15 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR, – Isu rusuh pada tahap pendaftaran Calon Gubernur-Wakil Gubernur Sulsel belakangan ini membawa sentiment negatif terhadap sektor bisnis.
 
Pengamat Ekonomi Unhas, Dr Zarkawi Rauf mengemukakan, momen seperti ini dengan pengerahan massa yang sangat besar sangat 
memengaruhi sektor bisnis di Kota Makassar.
 
Adanya kekhawatiran akan terjadinya bentrok dan rusuh membuat sentiment negatif pada pasar. Transaksi akan menurun karena aktivitas ekonomi juga tidak berjalan normal.
 
“Kalau berbicara dari segi ekonomi pasti ada dampaknya, mungkin bagi pedagang aso­ngan ini adalah momen yang menguntungkan, tapi bagi pelaku bisnis ini bisa merugikan mereka.
 
Transaksi di usaha mereka bisa saja menurun drastis karena tidak ada pembeli,” ujarnya via telepon, Jumat, 14 September.
 
Kerugian lain adalah kema­cetan yang terjadi di mana-mana. Ini akan menghambat perjalanan para pelaku bisnis. Berapa jam waktu mereka habiskan di jalan, berapa banyak BBM yang terbuang, ini kerugian yang tidak sedikit jika semuanya diperhitungkan.
 
“Bagi pelaku bisnis, waktu adalah uang, nah jika macet di mana-mana berapa jam terbuang dijalan, ini bisa mempengaruhi pendapatan mereka dalam sehari,” ujarnya  Zarkawi.
 
Meski demikian Zarkawi melihat bahwa hitungan seperti ini belum sepenuhnya di perhitungkan oleh para pelaku bisnis di Makassar, mereka masih lebih kepada kekhawatiran keamanan saja. (mg4/ami)

Read More >>

Karate Juara Umum Setelah 31 Tahun


Sabtu, 15 September 2012

PEKANBARU – Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat prestasi fenomenal pada penyelenggaraan PON PON XVIII Riau 2012.


Prestasi ini diraih cabang olahraga (cabor) karate yang sukses tampil sebagai juara umum dengan mengumpulkan 6 emas,2 perak dan 1 perunggu. Sulsel terakhir kali merebut juara umum karate pada PON X di Jakarta pada 1981. Sulsel memastikan diri keluar sebagai juara umum setelah merebut medali emas nomor bergengsi Kumite Beregu Putra mengalahkan tim tangguh Sumatera Utara (Sumut) pada final di GOR Tribuana,Pekanbaru, kemarin.

Posisi kedua ditempati Sumut dengan perolehan 4 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu, disusul DKI Jakarta 2 emas, 5 perak dan 5 perunggu. Sulsel yang menurunkan Hendro Agussalim, Syahrul, Duhril, Ismail dan Teguh menang 3-2 atas regu Sumut yang diperkuat atlet Pelatnas Helza, Deddi,Jintar dan Donny. Sebelumnya, Sulsel berhasil menunjukkan dominasinya di cabang karate dengan mengawinkan medali emas di kategori Kata Beregu Putra dan Beregu Putri.

Tiga medali emas lain disumbangkan Faizal Zainuddin di Kata Perorangan Putra, Hendro Salim di Kumite -84 kilogram, serta Ayu Safitri di Kumite -61 kilogram. Ketua Harian Pengurus Provinsi Federasi Karate-do Indonesia (Pengprov Forki) Sulsel,Ellong Tjandra,mengatakan, prestasi cabang karate ini tergolong luar biasa karena baru terjadi lagi setelah 31 tahun.“ Tidak ada yang menyangka kalau kita bisa menjadi juara umum di karate,”ujar dia.

Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar ini mengatakan, kunci keberhasilan Hendro Salim dkk adalah kerja keras dan keuletan saat latihan maupun bertanding. Pelatih karate Sulsel, Mursalim Badoo,juga mengakui hasil yang diraih pada PON ini adalah pengulangan PON X Jakarta. Hanya, saat itu jumlah medali yang diperebutkan tidak sebanyak saat ini.“Saat ini, Sulsel menguasai hampir di semua nomor,”katanya.

Dia menjelaskan, kunci kesuksesan cabang karate di PON XVIII Riau adalah komunikasi antara atlet dan pelatih yang terjalin baik.Sehingga,saat turun bertanding pemain tidak memiliki beban.“Jelang pelaksanaan PON, program latihan mereka bukan lagi fisik dan skill, melainkan pendekatan hati,”ujarnya. Kunci keberhasilan lainnya adalah tingginya kesadaran dari masing-masing atlet untuk memberikan hasil yang terbaik di PON.“Kami tidak memberikan beban kepada mereka.

Mereka sendiri yang membuat target,”kata dia. Sulsel menurunkan 18 kareteka di PON kali ini.Delapan di antaranya adalah atlet pelatnas. Mereka adalah Faizal Zainuddin, Aswar,Fidelis Lolobua, Hendro Salim, Wiwi Pertiwi, Ayu Safitri, Sahrul, dan Teguh. Kedelapan karetaka ini turun di nomor perorangan dan beregu.“ Hari ini (kemarin), karate kembali sumbang satu emas dari kumite beregu putra. Sedangkan putri dapat perunggu,” jelasnya.

Sementara itu,di cabang dayung, Sulsel menyumbang medali perak dari nomor rowing beregu dengan atlet Amanda dan Sri Rahayu Masi. Catatan waktu yang diraihnya 8.365,84. Sedangkan Arif, juga meraih perunggu dinomor rowing 1x putra dengan catatan waktu 8.118,05. Cabor anggar, atlet Sulsel Haerullah juga menyumbang medali emas.Kemenangannya didapat dengan dramatis.Pertandingan yang digelar di GOR Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Riau, Jumat (14/9),lawannya yakni Budi Darmanto, ambruk saat ketinggalan 12-10.

Saat terjatuh, atlet asal Jawa Barat (Jabar) tersebut langsung didekati pelatih dan ofisialnya. Pertandingan sempat terhenti sekitar setengah jam tanpa keputusan. Budi Darmanto selanjutnya mendapatkan pertolongan medis. Dia kemudian berdiri, lalu berjalan ke atas matras pertandingan. Pelatih tampak berkomunikasi dengan Budi.Dia pun berjalan ke arah Haerullah yang menunggu pertandingan dilanjutkan.Ternyata,Budi justru menyalami lawannya tanda membiarkan medali emas melayang ke Sulawesi Selatan. Haerullah langsung melompat dan mengangkat tangannya tanda kemenangan.

”Meski tetap meraih medali emas,namun kemenangan ini kurang nyaman,’’ kata Harry Jost, pelatih Anggar Sulsel mengenai drama pertandingan anak asuhannya dengan atlet Jabar tersebut. Dengan sumbangan emas dari karate dan anggar, satu perak dari dayung, serta dua perunggu dari karate dan rowing, kemarin Sulsel menambah lima medali. Sehingga total medali yang dikumpulkan 25.(*) 


Read More >>

PON XVIII Riau: Tim Layar Putri Melaju Raih Emas



Sabtu, 15 September 2012



Bengkalis, Riau, – Cabang olahraga Layar Sulawesi selatan yang menurunkan Cindy Pertiwi dan Fitri Esa Novita pada nomor Internasional 420 putri, berhasil menyabet medali emas, Sabtu (15/9/2012).

Di pertandingan yang berlangsung di Pantai Selat Biru Kabupaten Bengkalis ini, keduanya masih yang terbaik sehingga berhasil mematahkan perlawanan atlet dari Prov. Banten, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Timur.

Dari Perolehan Tim Dayung yang merupakan medali emas pertamanya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau ini, Kontingen Sulsel telah mengoleksi 12 medali Emas, 11 Perak dan 8 Perunggu.[KM05 melaporkan dari Riau]

Read More >>

15 Universitas Hadir di Unhas



Sabtu, 15 September 2012
SEBANYAK15 Perguruan Tinggi di Indonesia menghadiri seminar nasional kehutanan yang digelar Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Gedung Ipteks Unhas,kemarin.


Kagiatan tersebut juga sebagai rangkaian memperingati Hari Konservasi Nasional. Adapun ke15 universitas dan perguruan tinggi itu diantaranya, STIK Aceh,Universitas Riau,Universitas Haluleo, Universitas Mulawarman, Universitas Tanjungpura, STIPER Sangata,Universitas Tadulako,Universitas Gorontalo, Universitas Muhammadiyah Makassar,Universitas Indonesia Timur,Universitas Satria Makassar,Universitas Halmahera, Universitas Pattimura, STP Labuha Ternate,dan Universitas Kuningan.

Kegiatan yang dihadiri Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Selatan beserta beberapa Staf Dinas Kehutanan Sulsel tersebut mengangkat tema “Mendorong partisipasi aktif para pihak dalam pelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya”. Dekan Fakultas Kehutanan Prof Dr H Muh Restu mengungkapkan,seminar nasional tersebut merupakan salah satu kegiatan dari beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sejak berdirinya SYLVA pada tahun 1959,selain itu,dalam rangkaian kegiatan ini,juga akan dilaksanakan pemilihan Sekjen SYLVA yaitu Forum Mahasiswa Kehutanan Se- Indonesia yang sebelumnya dipimpin oleh perwakilan Mahasiswa Unhas.

“ Kegiatan seminar nasional ini sudah dilaksanakan sejak SYLVA didirikan tahun 1959,acara ini sangat penting untuk membangun kesepahaman antara mahasiswa kehutanan seluruh Indonesia,dalam menyusun perencanaan pembangunan di sektor kehutanan di masa mendatang,”paparnya. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Nasaruddin Salam menambahkan,acara ini merupakan kegiatan yang sangat positif bagi pengembangan kemahasiswaan ke depan.

Apalagi,Unhas akan melakukan kerja sama dengan berbagai stakeholders yang peduli dengan perkembangan pendidikan,salah satunya yang sedang berjalan adalah, kerja sama dengan pihak Panin Bank. “Kami berharap,Unhas juga bisa kerja sama dengan dinas kehutanan dalam rangka pengadaan bibit untuk program penanaman pohon yang diwajibkan bagi para mahasiwa baru,”katanya.

Saat ini lanjutnya,Fakultas Teknik sudah menerapkan program tersebut bagi mahasiswa baru yang belajar di kampus Samata Gowa,dan akan diikuti oleh fakultas lain, dimana setiap tahun,akan disediakan 5.000 bibit bagi 5.000 mahasiswa baru. herni amir

Read More >>

Dayung Dapat Lagi 3 Perak



Sabtu, 15 September 2012

14-Atlet-Dayung-Sulsel-Berangkat-ke-PON-Riau.jpg



MAKASSAR -- Cabang olahraga dayung Sulsel meraih tiga medali perak dalam lanjutan nomor rowing cabor dayung yang diselenggarakan di Danau Kebon Nopi, Kuantan Singingi, Provinsi Riau, Sabtu sore (15/9/2012)

Adalah Sri Rahayu Masi yang turun di nomor rowing 2.000 Meter Putri, Pasangan Zulmahari dan Mahendra di nomor rowing pasangan putra 2.000 M dan 2X kelas berat rowing putra oleh Arif Dan Theodorus yang juga mendapatkan medali perak.(*)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2012/09/15/dayung-dapat-lagi-3-perak
Read More >>

Pembangunan Hotel Pemprov Masih Terkendala Lahan



SABTU, 15 SEPTEMBER 2012  

MAKASSAR, —Pembangunan hotel sebagai hasil kesepahaman pelepasan saham Pemerintah Provinsi di Hotel Imperial Aryaduta masih terkendala pada persoalan lahan.
 
Kepala Biro Ekonomi Sulsel, Muhammad Firda menjelaskan, pembahasan mengenai bentuk kompensasi pelepasan saham anatara pemerintah dengan Lippo Karawaci mengerucut pada pembangunan hotel baru.
 
“Sekarang kami sudah rampungkan konsepnya. Terkahir ini kami juga sudah sepaham, tidak ada lagi masalah. Hanya persoalannya lahan pembangunan,” jelas Firda di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Kamis, 13 September.
 
Firda menjelaskan, kesepakatan pelepasan saham itu berupa pembangunan hotel baru oleh PT Lippo Karawaci berstandar hotel bintang tiga dengan 100 kamar.  Pemprov Sulsel sisa menyiapkan lahan untuk pembangunan hotel yang nilainya sekitar Rp30 sampai Rp40 miliar itu.
 
“Kita  tidak bicara soal saham lagi, tetapi kita sepakat pembangunan hotel oleh PT Lippo Karawaci. Jadi kita pemprov atas nama Perusda hanya menyiapkan lahan, itu merupakan jalan solusinya yang sudah kami sepakati,” jelasnya.
 
Untuk sementara, kata dia,  lahan milik Pemprov di sekitar masjid raya sebagai alternatif pertama, kemudian Maccini Sombala serta lahan Perusda di sekitar Paotere.
 
“Kami sementara mencari alternatif lain. Untuk membangun hotel membutuhkan tempat yang startegis. Soal lahan juga kami mau bahas dulu di internal, supaya tidak ada lagi masalah muncul belakangan. Pihak Lippo tidak mau nanti sementara memba­ngun, kemudian muncul masalah soal lahan,” jelasnya.
 
Firda juga menjelaskan, rencana pembangunan fisik pada Juni lalu urung terlaksana lantaran masih ada beberapa kendala, di antaranya konsep gambar yang belum selesai serta anggaran yang belum siap dari PT Lippo Karawaci.
 
“Tetapi sekarang semua sudah siap, sisa lahan itu. Kalau kami maunya bulan ini juga kalau bisa dimulai pembangunan fisik­nya. Ini yang saya mau laporkan ke Pak Sekda, semua sudah tidak ada masalah. Tidak lagi melalui RUPS, tadi kami sudah dengar penjelasannya (PT Lippo, red) setelah kami cek ulang,” tandasnya.
 
Untuk waktu pembangunan hotel ini, sambung Firda, idealnya membutuhkan waktu sampai sembilan bulan lamanya. 
“Pembangunan idealnya sem­bilan bulan. Kalau lewat tentu akan ada denda,” katanya.
 
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa saham Pemprov akan resmi dilepas, jika pihaknya dengan PT Lippo Karawaci selesai penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS). 
 
“Sekarang PKS sudah final, sisa mau ditandatangani. Pelepasan saham itu yakni kami mengeluarkan surat resmi kemudian PT Lippo lanjut mengurus,” ungkapnya.
 
Soal alasan penarikan saham tersebut, Firda menjelaskan, sejak Hotel Imperial dikelola Lippo Karawaci Group, hotel ini tidak lagi memberikan kontribusi deviden selama beberapa tahun terakhir.
 
Presentase kepemilikan saham pemprov hanya sebesar 0,08 persen atau 13.568.506 lembar saham. Padahal, persentase saham awal mencapai 30 persen. 
 
“Dengan sisa nilai saham itu sudah tidak signifikan lagi deviden yang kita dapatkan, itu karena kita tidak mampu menambah deviden setiap tahun,” katanya (eky/ami)

Read More >>

Jumat, 14 September 2012

Perusda Sulsel Butuh Dana Operasional Rp300 Juta



JUMAT, 14 SEPTEMBER 2012 

Fokus Agrobisnis dan Agroindustri 
MAKASSAR,  – Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo melantik jajaran direktur Perusahaan Daerah (Perusda) Sulsel di Baruga Sangiaseri, Kamis, 13 September. Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Tan Malaka Guntur diangkat sebagai Direktur Utama Perusda Sulsel.
Menurutnya, untuk biaya operasional, Perusda Sulsel membutuhkan anggaran sekitar Rp300 juta. Pihaknya mencoba melakukan negoisasi dan mengusulkan agar kebutuhan Perusda Sulsel bisa masuk dalam alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
“Untuk biaya operasional, kami baru membutuhkan sekitar Rp300 juta selama tiga bulan berjalan. Karena kami harus melakukan komunikasi dengan pemda kabupaten kota dan kementerian-kementerian di Jakarta, serta kepala SKPD di Sulsel,” jelas Tan Malaka.
Meski begitu, dia mengaku tidak akan begitu saja menysun konsep untuk sekadar menghabiskan anggaran daerah. Dia menargetkan, anggaran operasional itu  akan digunakan untuk membuat Perusda berjalan dan bisa mandiri.
Sebagai modal kerja, lanjut Tan Malaka, Perusda Sulsel tentu akan melihat lebih dahulu program apa yang paling mendasar dan paling prioritas untuk dilakukan. Setelah itu, baru kemudian ia bisa menetapkan berapa biaya yang butuhkan.
“Memang kami berharap Perusda mendapat alokasi anggaran dari APBD. Tetapi yang lebih kami harapkan adalah bagaimana kami bisa melakukan komunikasi dengan bank. Dan Alhamdulillah, tadi Bank Indonesia (BI,red) memberikan jaminan bahwa siap memberikan membantu agar bisa jalan. Kemudian dari segi birokrasi, hanya akan mendukung dari segi kebijakan-kebijakan,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan, dengan melihat potensi Sulsel sebagai daerah pengembangan pertanian, maka Perusda akan fokus mengarah pada agrobisnis dan agroindustri.
“Perusda merupakan kaki tangan pemerintah daerah untuk menangani hal-hal yang terkait dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, kami berharap, kehadiran perusda bisa memudahkan akses antara masyarakat dengan pemerintah,” tuturnya.
Selain itu, orientasinya adalah bisnis yang diharapkan bisa mendekatkan perusda kepada pelayanan kepada masyarakat namun tidak mengabaikan profit.
“Maksudnya adalah ada jasa-jasa yang kami kembangkan untuk mendapatkan profit,” ungkap Tan Malaka.
itu Gubernur Syahrul Yasin Limpo meminta agar Perusda mampu mengelola potensi Sulsel yang bertumpu pada agrobisnis menuju pada agroindustri.
“Perusda dimunculkan agar secara spesifik bisa menata sebuah proses yang sangat mendasar di Sulsel, dari agroculture ke agrobisnis, dan dari agrosbisnis ke agroindustri. Tentu saja organisasi ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pemerintah dan tetap berada di bawah pengendalian pengawas masing-masing,” terangnya.
Syahrul menambahkan, perusda akan berjalan sehat apabila dikawal orang yang memiliki kemampuan, kapabilitas, kompetensi, kecerdasan, komitmen kepada bangsa dan negara, bersih serta mampu menjaring komunikasi dengan semua pihak.
“Ini perusahaan yang berbeda dengan pemerintahan. Saya tentu tidak ragu dengan pengelola yang masuk dalam perusda ini, karena mereka ini merupakan mantan pejabat andalan saya di pemerintahan,” tegasnya. (eky/ami)
Read More >>

Pemprov Tegur Tujuh Kabupaten



Jumat, 14 September 2012 
MAKASSAR,  -- Tujuh kabupaten dan kota terancam tidak dapat menyusun perubahan APBD 2012. Pemprov Sulsel bahkan telah memberikan dua kali teguran kepada tujuh pemerintah daerah.
Teguran terkait belum diserahkannya Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) bupati dan wali kota ke Pemprov Sulsel. Padahal, LKPj ini sangat terkait dengan pembahasan perubahan APBD 2012.

Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Sulsel, Yushar Huduri mengaku telah mengirimkan surat peringatan kepada tujuh pemerintah kabupaten/kota. Surat ditujukan kepada Pemkab Soppeng, Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Tana Toraja, Selayar, dan Parepare.

"Pemprov sudah dua kali mengirimkan pemberitahuan kepada pemerintah kabupaten yang belum menyerahkan LJPj. Dokumennya harus diasistensi. Mereka tidak dapat menyusun perubahan APBD bila belum menyerahkannya," kata Yushar, Kamis, 13 September.

Yushar mengaku belum menerima pemberitahuan dari ketujuh pemerintah kabupaten dan kota tersebut terkait kendalanya. Kesempatan masih diberikan sampai 20 September mendatang. "Kami akan mengirimkan lagi surat pemberitahuan bila belum juga memperoleh LKPj bupati/wali kota," katanya. (rif/pap)


Sumber: http://www.fajar.co.id/read-20120913185130-pemprov-tegur-tujuh-kabupaten
Read More >>

Kamis, 13 September 2012

Pemprov Bentuk Tim Dokter Layani Veteran



Kamis, 13 September 2012

MAKASSAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel mewacanakan akan membentuk tim dokter untuk memberikan pelayanan dan memeriksa kesehatan para legiun veteran yang tersebar di 24 kabupaten/ kota.


Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, program pelayanan kesehatan terhadap para pejuang veteran tersebut dilakukan dengan mendatangi secara rutin rumah para veteran. Hal ini untuk mengoptimalkan program layanan kesehatan masyarakat, khususnya para veteran yang telah berjuang untuk kemerdekaan RI di masa lalu. “Kita lihat sekarang, ratarata veteran itu umurnya sudah mencapai 80 tahun. Makanya kita programkan ini, sehingga jika ada veteran yang sakit,tim dokter bisa bergerak langsung ke rumah masing-masing veteran ini,” jelasnya usai membuka rapat koordinasi Pelayanan PT Askes kepada para veteran di Hotel Grand Clarion Makassar, kemarin.

Karena itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan berkoordinasi dengan para ketua legiun veteran di seluruh kabupaten/ kota, untuk mengetahui jumlah keseluruhan veteran pejuang di Sulsel.Menurutnya, program tersebut untuk saat ini telah berjalan di Kabupaten Bantaeng dan pelayanan dokter melayani langsung ke rumah para veteran. Selain itu, program ini, kata Agus, bukan hanya melayani para veteran, tetapi juga melayani masyarakat umum,khususnya kepada mereka yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Sementara itu, Kepala Group Manager Kepesertaan dan Pemasaran PT Askes Andayani Budi Lestari menyatakan, program layanan kesehatan yang digagasnya tersebut bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan RI.Para legiun veteran ini juga akan mendapatkan layanan kesehatan Kelas I, dan bisa terlayani di seluruh Rumah Sakit (RS) di Sulsel, serta RS TNI dan RS Polri. Masing-masing veteran juga akan mendapatkan satu buah kartu, dan khusus keluarganya juga memperoleh satu kartu Askes.

“Hak kelas veteran di Kelas I. Apabila pasien memilih ruang di kelas lebih tinggi, maka perlu membayar selisihnya. Kita imbau para veteran berobat di RS yang memiliki kerjasama dengan PT Askes,” jelasnya kemarin. ● wahyudi 

Read More >>

Rabu, 12 September 2012

Tunggu RUPS Imperial



RABU, 12 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR,  – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel masih menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Hotel Imperial Aryaduta sebagai legalitas persetujuan pembangunan hotel kerja sama pemprov dengan Imperial.
Hasil RUPS ini juga akan menjadi rujukan dalam kompensasi pelepasan saham Pemprov Sulsel di Imperial Aryaduta.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Andi Muallim, menjelaskan, pada prinsipnya, pelepasan saham pemda dengan pembangunan hotel sudah disepakati dengan PT Lippo Karawaci sebagai pemegang saham terbesar Hotel Imperial Aryaduta.
Hanya saja, kesepakatan yang telah dibahas selama sekitar satu tahun ini, belakangan disebut masih perlu persetujuan secara formal dari internal pemegang saham.
“Kami sudah sepakat bahwa Rp8,8 miliar itu sebagai nilai saham di sana, untuk diganti dengan pembangunan hotel. Inilah lucunya, karena satu tahun kita sudah bahas dan sudah final, terakhir mereka katakan harus mendapat persetujuan RUPS,” jelas Muallim di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 11 September.
Terkait agenda RUPS ini, Muallim berharap supaya bisa secepatnya dilakukan agar semuanya bisa lebih jelas.  “Rups ini kan bisa dilakukan melalui rapat istimewa khusus membahas ini saja,” harapnya.
Apalagi, kata dia, substansi persoalan tersebut sebenarnya sudah dilakukan pembicaraan awal dengan pemegang saham.  “Artinya substansinya sudah oke, tetapi formalnya untuk melepas saham harus melalui RUPS,” terangnya.
Dalam kesepatakan sebelumnya, tambah Muallim, PT Lippo Karawaci sebagai pemegang saham terbesar Hotel Imperial Aryaduta, akan melepas saham Pemprov Sulsel dengan kompensasi pembangunan hotel di atas lahan yang telah disiapkan pemprov.
Sebelumnya,  PT Lippo berencana membangun hotel di salah satu lahan milik pemprov di Jalan Masjid Raya, Makassar. Lahan yang disiapkan Pemprov Sulsel untuk pembangunan hotel seluas tiga hectare ini dinilai cukup untuk membangun hotel berbintang tiga berlantai empat serta memiliki 100 kamar. (eky/ism)
Read More >>

7 Negara Hadiri Kongres Bahasa



Rabu, 12 September 2012
MAKASSAR – Pemprov Sulsel bekerjasama dengan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah di Sulsel,Oktober 2012 mendatang. 


Kongres yang digelar untuk kedua kalinya ini rencananya dihadiri peneliti dan pakar bahasa daerah Sulsel dari tujuh negara masing-masing Korea Selatan, Brunei Darussalam, Amerika Serikat, Jepang, Belanda,dan Singapura. Sekretaris Badan Bahasa Kemendikbud Yeyen Maryani mengungkapkan, kongres tersebut dilaksanakan sebagai upaya pemerintah dalam mengatasi ancaman punahnya bahasa daerah yang ada di Sulsel. Sejauh ini ada empat bahasa lokal yakni Bahasa Makassar, Bugis,Toraja, dan Bahasa Mandar. Jika tak terus dilestarikan, maka ancaman kepunahan pun tak dapat terhindarkan.

“Eksistensi bahasa lokal harus tetap dijaga agar menjadi identitas lokal.Inilah tanggung jawab pemprov, dan kabupaten/ kota di Sulsel,” jelasnya di Makassar kemarin. Kongres Internasional Bahasa- bahasa Daerah di Sulsel akan digelar selama empat hari di Hotel Sahid Jaya Makassar, mulai 1-4 Oktober 2012, dan dibuka oleh Mendikbud Muhammad Nuh. Terpisah, Ketua Panitia Kongres Internasional Bahasa Daerah Sulsel A Muallim menjelaskan, kongres yang akan digelar ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya setelah 2007 lalu.

“Pada kongres pertama lalu,kita menyepakati 11 rekomendasi untuk antisipasi punahnya bahasa daerah Sulsel. Sekarang waktunya kita evaluasi itu,”jelasnya. Muallim yang juga Sekprov Sulsel ini mengatakan,pelestarian Bahasa Bugis, Makassar, Toraja, serta Mandar sudah menjadi harga mati bagi seluruh warga di Sulsel. ● wahyudi 

Read More >>

Wapres Puji Kinerja Keuangan Pemprov



Rabu, 12 September 2012
MAKASSAR, –Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, Boediono memberikan apresiasi dan pujiannya kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota serta provinsi se-Indonesia yang berhasil meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Apresiasi khusus ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sulsel, yang telah berhasil meraih predikat WTP dua tahun berturut-turut, yakni pada 2010 dan 2011.
Oleh karena itu, mantan Gubernur BI ini tak tanggung-tanggung memberikan apresiasi dan penghargaan serta pujiannya kepada Pemprov Sulsel melalui Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, saat mewakili Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menerima penghargaan WTP dari Kementerian Keuangan, Selasa (11/9) di Jakarta. “Pak Wapres bilang WTP adalah hasil dari kerja dalam pengelolaan keuangan dalam satu tahun anggaran. Dan Pemprov Sulsel bisa mendapatkan itu, ini adalah hal yang luar biasa,” kata Agus usai menerima penghargaan WTP tersebut.
Menurut Wapres, seperti yang diungkapkan Wagub, pemerintah pusat menargetkan 60 persen dari 500 lebih provinsi, kabupaten/kota, yang harusnya mendapat penilaian WTP. Itu artinya sekitar 300 pemerintah kota/kabupaten dan pemprov harus berlabel WTP. Tapi kenyataannya tahun ini menurut Boediono, di Indonesia baru 67 kabupaten/kota yang berhasil mendatapkan predikat WTP, termasuk 10 pemerintah provinsi termasuk di dalamnya Pemprov Sulsel. “Ini menjadi prestasi yang harus kita pertahankan,” kata Agus.
Sementara Wakil Presiden Boediono dalam sambutannya mengatakan, pemberian penghargaan ini sebagai apresiasi kepada daerah dalam hal pengelolaan keuangan agar semakin meningkatkan kinerjanya. “Keuangan negara sangat menentukan hancur suatu negara. Untuk itu mari kita jaga dan tingkatkan pengelolaan keuangan,” katanya. Ia menambahkan, saat ini ada kemajuan dalam hal pengelolaan keuangan dibanding tahun sebelumnya. Target pemerintah dimana pada tahun 2014, semua instansi pemerintah pusat 100 persen WTP. (mg10/ade)
Read More >>

Pemprov Harap Bahasa­ Daerah ­Dilestarikan



RABU, 12 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR, — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel bersama seluruh elemen terkait siap menggelar kongres bahasa sebagai salah satu upaya melestarikan bahasa daerah khas Sulsel yang terancam punah.
Bahasa dan sastra daerah selama ini dianggap se­bagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Kenyataan inilah yang menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengajak masyarakat bersama semua elemen terkait, untuk kembali menggelorakan pelestarian bahasa dan satra sebagai identitas daerah.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Andi Muallim, mengatakan, punahnya bahasa dan sastra daerah karena tidak lagi diajarkan di tingkat sekolah dasar (SD), padahal bahasa daerah diajarkan dalam muatan lokal.
Muallim juga mengaku, seharusnya bahasa daerah tetap diperkenalkan sejak dini mulai di tingkat taman kanak-kanak.
“TK menjadi pembunuh bahasa daerah, karena saat di TK, tingkat kepekaan anak sangat tinggi tetapi tidak diajarkan bahasa daerah. Akibatnya, bahasa daerah tak lagi dipahami anak-anak,” katanya dalam rapat panitia Kongres Bahasa-bahasa Daerah Sulsel II tahun 2012, di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 11 September.
Selaku ketua kongres, Muallim menegaskan, saat ini bahasa daerah sudah berada diambang kepunahan. Itu dibuktikan dengan tidak adanya lagi kepedulian dan pengetahuan generasi muda terhadap bahasa daerahnya masing-masing.
“Kongres kedua ini untuk mengulangi kesuksesan kongres yang pertama. Di mana, kongres pertama telah menelorkan 11 rekomendasi untuk menjaga bahasa daerah tetap lestari. Kongres kali ini tujuannya tetap sama, yakni untuk melestarikan dan melindungi bahasa-bahasa daerah yang kita miliki,” jelasnya.
Kongres ini akan menghadirkan 60 pemakalah dari luar dan dalam negeri dan rencananya akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI. Kongres akan digelar di Hotel Sahid Makassar, 1-4 Oktober mendatang.
Sementara, Sekretaris Badan Bahasa Kemendiknas, Yeyen Maryani mengungkapkan, kehilangan bahasa lokal merupakan kehilangan sebuah bahasa kesukuan. Sehingga dibutuhkan suatu langkah untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur tersebut. (eky/ism)
Read More >>

Sulsel Siap Tuan Rumah PON 2020



Rabu, 12 September 2012 
Syahrul Pimpin Defile Kontingen 

PEKANBARU, FAJAR -- Sulawesi Selatan ingin mengulang sejarah tahun 1957. Saat itu, Makassar ditunjuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON). Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap kesempatan itu datang lagi pada tahun 2020.

Sejauh ini, ada dua provinsi yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah PON XX tersebut. Selain Sulsel, Daerah Istimewa Aceh juga punya keinginan yang sama. Kehadiran Syahrul di Riau bermisi ganda. Selain menghadiri upacara pembukaan, dia juga meninjau sejumlah venue.

Peninjauan terhadap sejumlahvenue itu adalah bagian dari keseriusan Sulsel untuk menjadi tuan rumah PON. Persiapan Riau akan dijadikan bahan rujukan untuk menyiapkan pesta olahraga empat tahunan itu di Makassar.
"Kita siap jadi tuan rumah PON. Makanya, Pak Syahrul melihat seperti apa kesiapan venue di Riau," kata Sekretaris Umum KONI Sulsel, Nukhrawi Nawir, Selasa, 11 September.

Syahrul, kata Nukhrawi, sudah mengutarakan keinginan itu kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Untuk memuluskan keinginan tersebut, mulai tahun depan, Pemerintah Provinsi Sulsel akan membangun beberapa venue berstandar nasional dan internasional yang akan digunakan pada PON XX tersebut.

Pada upacara pembukaan PON malam tadi, Syahrul memimpin langsung defile kontingen Sulsel di Stadion Utama Riau. "Saya mau memberikan dukungan langsung kepada para atlet. Sebagai komandan,saya harus turun merasakan sendiri seperti apa arena pertempuran itu," ujarnya.

Pada PON kali ini, Sulsel membawa 225 atlet dan mengikuti 37 cabang olahraga. Karateka peraih medali emas kelas kumite -84 kilogram, Hendro Salim tampil di barisan paling depan. Dia mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar.
Tetapi, Syahrul merasa kecewa karena suporter dari warga Bugis-Makassar tidak kelihatan sama sekali. Padahal, sudah disiapkan 500 lembar baju kaus untuk dibagikan. Ternyata, tidak ada yang datang mendukung. Syahrul sempat mencari tahu siapa saja pejabat di Pekanbaru yang merupakan warga Sulsel.

"Saya kecewa. Tetapi, kita harus tetap semangat meraih hasil yang lebih baik dibanding PON sebelumnya. Saya melihat, kondisi semua atlet sangat prima dan tekadnya kuat meraih juara," paparnya.

Jika sebelumnya, mantan bupati Gowa itu mengaku enggan menjanjikan bonus kepada peraih medali, kemarin Syahrul mengatakan atlet yang berprestasi tetap akan mendapat bonus. "Nilainya tidak usah dipublikasi yang jelas kita akan berikan penghargaan," ujar Syahrul yang sempat membawakan kuliah umum di Universitas Lancang Kuning, Riau, Selasa siang.

Koordinator kontingen Sulsel, Ellong Tjandra mengaku sudah bertemu dengan pengurus KKSS Riau. Tetapi, mereka mengaku tidak bisa mengerahkan suporter karena banyak yang terlibat dalam kepanitiaan di PON.
"Jadi, baju kaos dibagi kepada atlet saja menjadi suporter karena pihak KKSS tak bisa memberikan bantuan. Sementara kontingen lain cukup banyak suporternya," keluhnya.

Pelaksana tugas Ketua Umum KONI Sulsel, Andi Darussalam Tabusalla (ADS) mengatakan, soal dukungan pihaknya tetap berharap banyak saat hari libur. "Nanti libur kerja akan dikerahkan suporter warga Bugis-Makassar," katanya.
Ketua KKSS Riau, Yusuf Daeng mengaku sudah mengimbau warga Bugis-Makassar yang jumlahnya 500 orang. Tetapi, kebanyakan sibuk bertugas di PON dan bekerja. (ram/sil)
Read More >>