Tampilkan postingan dengan label PNS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PNS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

300 PNS Pemprov Terima Satyalencana


kAMIS, 16 AGUSTus 2012

alt
MAKASSAR, — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel menganugerahi satyalencana karya satya kepada sebanyak 300 pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemprov Sulsel yang telah mengabdi selama 30 tahun, 20 tahun, dan 10 tahun.
Penyematan tersebut berlangsung di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumohardjo, Rabu, 15 Agustus, sebagai tindaklanjut surat keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 15/TK/Tahun 2012 dan nomor 62/TK/Tahun 2012. Ini sebagai rangkaian peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67 Tahun.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa penyematan tersebut sebagai penghargaan kepada para PNS yang dinilai sebagai orang telah memberikan pengabdiannya kepada negara.
“Ini sebagai bukti abdi dan pengabdian dari seseorang yang dihargai oleh negara. Itu juga sebagai tandanya kita sudah bekerja maksimal,” kata Syahrul, usai melakukan penyematan tersebut.
Dengan penganugerahan tersebut, lanjut mantan Bupati Gowa dua periode ini, diharapkan agar semua aparat negara ini bisa memberikan dan mempertahankan kinerja maksimal atau bahkan lebih baik lagi.
Syahrul juga menjelaskan bahwa dalam kurun waktu selama dua tahun terakhir ini, aparat Pemprov Sulsel telah menunjukkan perkembangan yang makin baik.
Salah satu buktinya, yakni dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi hingga di atas pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk diterimanya predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Tentunya ini semua merupakan bukti nyata kerja kita semua yang kompak dan senantiasa bekerja hanya untuk kemajuan daerah,” katanya. (eky/ism)
Read More >>

Sabtu, 30 Juni 2012

Prioritaskan Pengangkatan Guru di Pulau


Sabtu, 30 June 2012
MAKASSAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel meminta kepada pemerintah pusat untuk memprioritaskan keberadaan guru di daerah kepulauan dibandingkan dengan di perkotaan. Pasalnya, sekolah yang berada di pulau kerap kekurangan tenaga pengajar. 

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, daerahnya yang dinilai kurang strategis mengakibatkan minat guru untuk mengajar di pulau sangat rendah. Bahkan, sangat jarang ditemukan tenaga pengajar yang secara sukarela mengajar di sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di kepulauan. “Makanya, dalam Rapimnas PGRI yang dilaksanakan di Makassar, kita minta pemerintah pusat untuk memprioritaskan guru sekolah di kepulauan,” ungkapnya kepada wartawan kemarin.

Daerah kepulauan di Sulsel yang kerap kekurangan tenaga pengajar, yakni pulau-pulau di sekitar Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, serta Kabupaten Kepulauan Selayar. Menurutnya, pemerintah pusat seharusnya lebih memprioritaskan pengangkatan guru putra daerah asli kepulauan. Hal ini lebih baik dibandingkan dengan merekrut tenaga pengajar dari daerah lain untuk ditempatkan di pulau.

“Realitanya sekarang, banyak orang pulau yang tidak diterima. Di satu sisi, PNS yang ditempatkan di kepulauan, tidak akan bertahan lama.Jika ini berlanjut, tidak akan menyelesaikan persoalan,”beber dia. Mantan ketua DPRD Sulsel ini menyarankan agar warga peulauan diberikan dispensasi untuk diprioritaskan menjadi tenaga pengajar dengan catatan harus diberi bekal dan kualifikasi yang memadai.

Saat disinggung mengenai pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan PGRI Sulistiyo yang menyebutkan pemerintah daerah dituding tidak memperhatikan hak-hak yang harus diperoleh guru honorer, Agus berkelit. Menurutnya, kebijakan untuk memperhatikan nasib guru honorer berada di tangan kabuaten/ kota. Pemprov Sulsel tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengaturan.

Apalagi, kewenangan untuk melakukan pengangkatan guru honorer menjadi CPNS sepenuhnya di tangan pemerintah pusat sebagai penentu. Pemerintah daerah hanya meneruskan kebijakan dari pusat. “Kewenangan pengaturan guru itu kan ada di wali kota dan bupati. Kita harap honorer itu dibegitukan. Tapi balik kita lagi, kebijakan itu dari pemerintah pusat,”bebernya.

Sehari sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan PGRI Sulistiyo mengaku, sebagian guru honor banyak mendapatkan tugas layaknya guru PNS.Namun, tidak memperoleh haknya secara wajar, baik dari aspek kepegawaian, kesejahteraa, dan perlindungan. Bahkan, di beberapa daerah, ada guru honor yang mendapatkan upah Rp200.000 setiap bulannya. Padahal, kerjanya sehari-hari melebihi dari tugas seorang guru negeri.

“Kami menyimpulkan, mereka di-dzalimi. Guru diminta kerja layaknya PNS, tapi tidak dapatkan perhatian.Yang lebih parah lagi, pemerintah saja tidak punya data berapa guru honor, bahkan ada kabupaten/ kota yang guru honornya dilarang mengisi daftar hadir,” katanya di Makassar. ● wahyudi   

Read More >>