Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Syahrul: Pilgub, Mari Kedepankan Sipakatau


Jumat, 16 November 2012


 

MAKASSAR,  – Calon Gubernur Incumbent Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL), kembali mengingatkan seluruh masyarakat Sulsel, khususnya para rivalnya untuk selalu mengedepankan filosofi masyarakat Sulsel “Sipakatau dan Sipakalebbi” dalam menghadapi Pilgub Sulsel, 22 Januari 2013 mendatang.

“Karena dengan sikap dan sifat sipakatau dan sipakalebbi pilkada gubernur akan aman dan damai. Rakyat yang akan merasakan kedamaian itu,” ujar Syahrul dalam di sela-sela memperingati tahun baru Islam, 1 Muharram 1434 H, bersama masyarakat Kecamatan Biringkanaya, di Pondok Pesantren An Nur Muhasin, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kamis, 15 November.

Dia mengatakan, jika kedua falsafah Sulsel tersebut diimplementasikan dengan baik, maka tidak akan ada black campaign (kampanye hitam) atau fitnah di antara kita semua. “Tidak akan ada yang tega memfitnah sana-sini. Yang adik menghargai kakankya dan yang kakak tentu menyayangi adiknya. Kira-kira seperti itulah. Jabatan itu bagi saya bukan segala-galanya,” jelas Syahrul.

Syahrul mengimbau agar umat muslim menyambut peringatan tahun baru Islam di bulan Muharram dengan tekad agar kehidupan masyarakat lebih baik dari tahun sebelumnya. Untuk itu, harus dibarengi dengan kerja keras karena kekayaan alam masih melimpah ruah.

“Potensi alam saat ini belum tergarap dengan baik. Yang ada di laut, maupun darat dan pengunungan. Semua karunia Allah SWT adalah bagian dari dinamika kehidupan,” terangnya.

Syahrul mengajak seluruh umat muslim untuk menanamkan rasa kebersamaan yang diselimuti oleh rasa kebangsaan serta mampu menjunjung tinggi hak hak dan peradaban kultural. Harus saling menghargai dengan sepenuh hati, sesuai dengan identitas kultural dan identitas agama kita.

Pesantren yang didatangi Syahrul tersebut digagas dan didirikan oleh Kyai H Syekh Ahmad Kamaruddin Assagaf dan H Muhiddin Quraisy. (*/soe)

Sumber:  http://cakrawalaberita.com/politik/syahrul-pilgub-mari-kedepankan-sipakatau
Read More >>

Senin, 08 Oktober 2012

Suara SYL, Suara Petani dan Nelayan


Senin, 8 Oktober 2012



WAJO – Ribuan petani dan nelayan Kabupaten Wajo, memadati Lapangan Sepak bola WakkaE Manyili, Kecamatan Takalala, Kabupaten Wajo, Minggu (7/10). Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Wajo, Syahruddin mengatakan, antusiasme petani dan nelayan tersebut merupakan bukti kalau suara Syahrul Yasin Limpo merupakan suara petani dan nelayan.

“Suara SYL, suara petani dan nelayan,” kata Syahruddin pada silaturahmi dan Pengukuhan Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) se Kabupaten Wajo.

Syahruddin mengungkapkan tahun ini panen raya komoditi unggulan di Kabupaten Wajo merupakan yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, ia beserta petani yang ada merasa bersyukur dan berterima kasih karena hal itu bisa dicapai karena adanya kebijakan pemerintah provinsi yang berpihak pada petani dan nelayan.

“Rasa syukur kami juga telah tergambar melalui lambang KTNA Wajo. Warna hijau muda melambangkan meneruskan kebaikan dan segala tatanan yang baik di Sulsel. Sedangkan warna hijau tua mengisyaratkan harapkan untuk tuntaskan pembangunan di Sulsel,” jelasnya.

Secara pribadi Syahruddin menilai dosa besar jika segala kebaikan dan keberhasilan tersebut diabaikan. Kebijakan yang dibuat Syahrul Yasin Limpo selaku Gubernur Sulsel membuat bank-bank yang ada mau memberikan kredit untuk rakyat, yang selama ini sangat didambakan. Tidak hanya itu, penyaluran benih pertanian juga dilakukan dengan sangat baik.

“Bulog dan petani yang dulunya bermusuhan, sekarang sudah menjadi partner yang baik karena kebijakan gubernur,” urainya.

Atas jasanya tersebut, Syahrul menerima pin emas KTNA Nasional dari Ketua KTNA Wajo.

Sementara itu Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Sulsel adalah provinsi terbaik dalam hal pengelolaan pangan di Indonesia. Pertanian berjalan cukup baik dengan hasil komoditi andalan yang cukup besar.

“Kabupaten Wajo memberikan kontribusi yang cukup besar dalam peningkatan perekonomian Sulsel. Karena itu, semua ini harus dilanjutkan,” tuturnya.

Syahrul berharap, pendapatan rakyat bisa mencapai Rp30 juta per kapita. Pertanian harus menjadi industri pertanian. Hasil komoditi unggulan Sulsel harus dinikmati dunia.

“Pemerintahan kita terbaik nasional dan ekonomi kita terus membaik. Kita perbaiki pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan kita. Kita lanjutkan apa yang sukses ini,” urainya.

Dalam kesempatan itu, Syahrul juga menyerahkan piagam penghargaan kepada lembaga perbankan yang telah memberikan dukungan modal melalui KUR kepada petani, Pupuk Kaltim Wajo, Bank Sulsel Cabang Sengkang, Bulog dan Sangiaseri. Ada pula penyerahan sertifikat prona dan bantuan berupa alat-alat pertanian.(RS5/D) 

Read More >>

Selasa, 14 Agustus 2012

Nurdin: Sulsel Rugi Jika SYL Ogah Jadi Gubernur


SELASA, 14 AGUSTUS 2012 

alt
BANTAENG,  – Bupati Bantaeng Prof Nurdin Abdullah mengatakan, masyarakat Sulsel termasuk golongan yang merugi jika Syahrul Yasin Limpo tak mau lagi menjadi gubernur. Pasalnya, sulit menemukan pemim­pin yang memiliki visi ke depan dan mau me­ngorban­kan kepentingannya untuk rakyat.
“Pak Syahrul adalah ketuanya gubernur se Indonesia. Dia komandannya gubernur. Jadi warga Sulsel rugi, jika Syahrul tak mau jadi gubernur
lagi,” kata Nurdin usai melaksanakan salat Ashar ber­jamaah dengan Gubernur Syahrul Yasin Limpo dan ma­syarakat Bantaeng di Masjid Pantai Marina, Korongbatu, Kabupaten Bantaeng, Senin, 13 Agustus.
Ia mengungkapkan, ma­sya­rakat Bantaeng selalu memuji kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo sebagai Gubernur Sulsel. Pasalnya, buah pikiran dan terobosan yang berha­sil dilakukan Syahrul telah dinikmati masyarakat, khususnya di Kabupaten Bantaeng.
“Saya menutup MTQ tingkat desa tadi malam. Masyarakat di sana begitu memuji terus Pak Gubernur. Itu tidak salah. Masyarakat Bantaeng menikmati buah pikiran dan terobosan yang dilakukan. Seandainya ada rekamannya, saya ingin perlihatkan pada Pak Syahrul, betapa masyarakat di sana menaruh harapan besar,” ujarnya.
Nurdin mengungkapkan, salah satu bukti dari pemikiran Syahrul adalah pe­lebaran jalan di Loka dari 3,5 meter menjadi 12 meter.
“Jalan itu adalah jalan provinsi, sangat jarang ada pemimpin yang memiliki visi ke depan. Kenapa sampai diperlebar 12 meter? Karena Pak Syahrul melihat perkembangan Loka yang signifikan. Ke depannya bus wisata akan banyak menuju ke Loka,” terangnya.
Ia menambahkan, Pantai Marina juga bukan hasil kerja kerasnya sendiri sebagai bupati, tetapi juga ada campur tangan Gubernur Sulsel.
“Kami menaruh harapan besar pada Pak Gubernur. Pembangunan harus berkesinambungan, tidak cukup sampai di sini. Tidak cukup hanya lima tahun, harus dilanjutkan,” terangnya.
Harus Disempurnakan
Menanggapi hal itu Syahrul Yasin Limpo menga­takan, keberhasilan harus diulang sehingga makin sempurna. Be­gitupun dengan Rama­dhan, selalu ingin kita ulang. Karena, kita berharap Ramadhan bisa menyempurnakan apa yang kurang dan menstabilkan apa yang ada. Memperbaiki pendekatan vertikal kepada Allah dan pendekatan horisontal kita.
“Ramadhan juga meng­ajarkan kita hadir pada kehidupan yang penuh kasih sayang. Kita diajarkan hidup bahagia, sayang pada keluarga, ditandai dengan buka puasa dan sahur bersama dengan keluarga. Inilah puncak kebahagiaan yang harus dijaga. Sayang simbol hadirnya kebahagiaan,” urainya.
Menurutnya, kehidupan yang bahagia selalu diwarnai dengan agama yang baik. Pasalnya, agama membuat kehidupan ekonomi semakin baik, manusia semakin beradab, jujur, dan tahu saling menghargai. Agama sumber kehidupan yang makin baik.
“Saya selalu memegang prinsip itu. Bahkan, ketika saya mulai dari kepala desa, lurah, camat, bupati hingga gubernur. Dan semuanya berprestasi. Saya juga mendapatkan pendekatan tersebut ketika belajar ilmu pemerintahan hampir di semua negara di dunia,” jelasnya.
Ia pun berkesimpulan jika agama mampu mendorong kehidupan ekonomi yang sema­kin baik. Termasuk di Sulsel. Bahkan, Sulsel mampu menjadi provinsi terbaik di Indonesia.
Peningkatan ekonominya tertinggi nasional dan tingkat inflasinya terendah. Indikator lainnya, jumlah jemaah haji Sulsel juga terbanyak di Indonesia, mencapai 116 ribu orang dengan rata-rata waktu tunggu 15 tahun.
“Saya harap, apa yang kita capai ini, bisa kita teruskan. Kita lanjutkan semua yang baik-baik itu,” imbuhnya. (*/ute)
Read More >>