Sabtu, 08 September 2012

Lutra Jadi Sentra Produksi Gula Merah



Sabtu, 08 September 2012

PEMPROV tengah merancang Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara (Lutra) menjadi sentra produksi gula merah di Sulsel. Daerah tersebut sangat mendukung mengingat tersedia lahan perkebunan tebu yang cukup luas, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan untuk memproduksi gula merah.

“Perkebunan tebu milik masyarakat di wilayah daratan tinggi di sana mencapai 300 hektare. Makanya kita merancang daerah ini menjadi sentra produksi gula merah,” kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang saat menerima kunjungan Ketua Dewan Adat Seko D Tandipaewa di Kantor Gubernur Sulsel kemarin.

Untuk tahap awal, pemprov siap membantu penyiapan bibit tebu kepada para masyarakat agar bisa dikembangkan. Agus juga mengaku akan memfasilitasi pengadaan tersebut. “Seko ini akan dijadikan kawasan terpadu spesifik daerah, karena memiliki kondisi wilayah yang berbeda dengan daerah lain. Sehingga, nantinya produk yang dihasilkan tidak ada saingannya dari daerah lain,” beber dia.

itu, Agus juga berjanji akan membantu pengadaan pabrik gula merah yang menggunakan bahan bakar dari hasil perasan tebu. Selain hemat biaya, hal ini juga menjadi penghasilan tambahan bagi para petani tebu.

Sementara itu, Tandipaewa mengatakan, masalah utama yang dihadapi masyarakat Seko terutama dalam memasarkan hasil bercocok tanamnya adalah masalah transportasi. Untuk menjangkau Kecamatan Seko, dibutuhkan waktu minimal empat jam dari ibu kota Lutra. Jalur tersebut hanya bisa dilalui motor. (wahyudi) 

Read More >>

Jumat, 07 September 2012

Sulsel Minta Tambahan Kuota CJH 2013



JUMAT, 07 SEPTEMBER 2012 


MAKASSAR,  - Pemerintah Provinsi Sulsel kembali meminta Ditjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama RI agar mempertimbangkan penambahan kuota haji Sulsel pada tahun 2013 mendatang.
Sekretaris Provinsi Sulsel Andi Muallim menyampaikan hal ter­sebut di depan Sekre­taris Ditjen PHU Ke­­menag, Cepi Supriat­na, yang menghadiri pe­lan­tikan Panitia Pe­nye­lenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar dan Meal Presentation 2012 di Hotel Clarion Makassar, Kamis, 6 September.
Kuota haji Provinsi Sulsel sebanyak 7.221 tahun 2012 ini. Jumlah ini dinilai tidak sebanding dengan jumlah daftar tunggu yang semakin tahun semakin membengkak.
Muallim menjelaskan, seharusnya Ditjen PHU mempertimbangkan daftar tunggu ja­maah haji yang mencapai sekitar 116 ribu orang, serta budaya di Sulsel tentang penyelenggaran ibadah haji yang disakralkan dan dibanggakan.
“Saya sampaikan ini agar Ditjen PHU mau meng­urus daftar kuota kita di Sulsel yang makin besar. Seharusnya, yang tertinggi daftar tunggunya serta budaya tentang haji ini dimasukkan sebagai indikator penentuan kuota haji. Kalau demikian, kami berharap kuota haji Sulsel tahun depan adalah yang tertinggi. Saya tantang Bapak menyelesaikan persoalan ini, karena kalau tidak pasti akan menumpuk,” tegas Muallim.
Apalagi, sambung mantan Kepala Inspektorat Sulsel ini, beberapa tahun belaka­ngan ini Sulsel merupakan daerah yang pemberangkatan umrahnya terbesar di dunia.
“Jumlah jamaah umrah di Sulsel terbesar di dunia, itu setiap tahun. Ini pertanda ada langkah hebat dari pemerintahnya,” katanya.
Khusus untuk pelayanan calon jamaah haji (CJH) tahun 2012 ini, Muallim meminta agar PPIH Sulsel melakukan evaluasi kegiatan pada tahun 2011 lalu.
“Itu agar tahun ini kita bisa menerapkan kembali pelayanan yang lebih baik, dan kalau sudah baik sebelumnya agar dipertahankan dan ditingkatkan lagi, termasuk soal pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Muallim juga secara langsung melantik Muhammad Gazali Suyuti yang juga Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, sebagai ketua PPIH Embarkasi Makassar yang berjumlah 21 orang.
Sementara itu,  Sekretaris Ditjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Cepi Supriatna mengatakan, sebanyak 72 persen pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekkah berada pada radius di bawah 2.000 meter dari Masjidil Haram, atau menurun dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 93 persen. Jarak terjauh, sebagaimana ditargetkan, maksimal 2.500 meter.
“Pada 2011, jarak di bawah 2.000 meter sebanyak 93 persen, sedangkan pada tahun 2012 sudah menurun 72 persen,” kata Cepi.
Ia juga mengatakan bahwa proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia, akan dimulai dengan pemberangkatan kloter pertama, yakni pada 21 September 2012 dan 20 Oktober penerbangan seluruh embarkasi memasuki masa akhir.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, HM Gazali Suyuti, usai kegiat­an mengatakan,  Panitia Pe­nyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ini memiliki tugas memberikan pelayanan yang jauh lebih baik. Jadi di sini pihaknya akan menangani pemberangkatan dan pemulangan jamaah dan tak boleh ada yang tertinggal.
Dari segi komsumsi, semua nantinya akan betul-be­tul dijaga agar tetap steril, ja­ngan sampai kejadian seperti komsumsi bermasalah yang terjadi pada jamaah Negara lain yang sempat terjadi tahun lalu dialami oleh jamaah Sulsel.
“Untuk itu mulai dari berangkat hingga pemulangan nantinya, mengenai komsumsi terjamin steril,” katanya.
Ditanya soal harapannya untuk kuota haji tahun depan, Gazali berharap, agar kuota dapat lebih ditambahkan. Itu bukan saja mengenai harapan gubernur, tapi juga harapan seluruh masyarakat. Bagaimana tidak jumlah daftar tunggu calon jamaah haji reguler saat ini sudah ada sebanyak 100 ribu orang. Itu belum lagi CJH ONH Plus, di luar dari angka 100 ribu orang lebih itu.
“Kalau untuk Plus, mungkin 4-5 tahun menunggu, tapi untuk regular yang harus menunggu 14 tahun, kan kasihan terlalu lama menunggu. Kami sangat mengharapkan kuotanya dapat ditambahkan lagi,” tandas Gazali. (mg3/eky/ute)
Read More >>

Syahrul Ajak Siswa MAN I Makassar PAKUI



Jumat, 7 September 2012


MAKASSAR,  - Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengajak ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Makassar memakai prinsip PAKUI. Calon gubernur incumbent ini sesaat sebelum meresmikan Masjid Maulana Rauf, MAN I Makassar, di Jl Talasapang, Makassar, Jumat (07/09/2012).

Hadir ratusan siswa MAN I, orang tua masing-masing siswa, belasan guru MAN I, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Sayuti Gazali, Humas Kemenag Tonangm Cawidu dan beberapa tamu undangan lainnya.

"Anak-anak MAN ingat ajaran saya PAKUI, Pakui ini ajaran saya, memperbaiki karakter itu Pakui," ajak Syahrul saat memberi sambutan.

PAKUI adalah salah satu icon Syahrul sosialisasi Syahrul yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulsel ini menjelang pemilihan gubernur 22 Januari 2013. Pray (doa), Attitude (sikap), Knowledge (pengetahuan), ulet, dan impian disingkat PAKUI.

"Biasanya orang cerdas memilih sesamanya yang cerdas, pasti memilih orang cerdas," Syahrul menambahkan disambut aplaus siswa dan sejumlah guru.

Masih dalam sambutannya, mantan bupati Gowa ini juga mengajak kepada semua kalangan untuk beragama dengan baik. Menurut Syahrul, agama adalah rumus utama kehidupan yang beradab.(*)


Read More >>

Kamis, 06 September 2012

Penimbunan CPI - Penandatanganan PKS Pemprov-GMTD Molor



Kamis, 06 September 2012

MAKASSAR – Penandatanganan naskah perjanjian kerja sama (PKS) antara Pemprov Sulsel dan PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) terkait proyek penimbunan lahan Centre Point of Indonesia (CPI) yang dijadwalkan kemarin, kembali molor.

Belum diketahui alasan dibatalkannya penandatanganan PKS tersebut.Namun jauh hari sebelumnya, penandatanganan ini dijadwalkan di Baruga Sangiaseri Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, kemarin. Jadwal ini juga telah dimasukkan di Biro Humas dan Protokoler Pemprov Sulsel.

Kepala Biro Ekonomi Pemprov Sulsel Muhammad Firda yang dikonfirmasi SINDO mengaku tidak tahu menahu mengenai rencana penandatangan PKS proyek penimbunan CPI, yang menelan investasi hingga Rp2 triliun ini. “Saya tak tahu kalau ada penandatanganan PKS hari ini. Coba cek ulang di Bagian Protokoler Pemprov,” kata Firda kepada wartawan kemarin.

Dia beralasan, sebelum penandatanganan PKS,pihaknya terlebih dahulu harus menyepakati bagi hasil dengan PT GMTD terkait penimbunan di kawasan CPI. Sebelumnya pemprov dan GMTD menyepakati kompensasi 80%-30% terkait penimbunan CPI.Namun karena adanya penambahan cost, pihak GMTD mengusulkan penambahan kompensasi 2% atas penimbunan itu. “Sampai sekarang belum ada kesepakatan mengenai kompensasi itu. Kalau itu sudah selesai,kita laksanakan penandatangan PKS,”beber dia.

Sementara itu, pengerjaan proyek tembok laut dan pengamanan pantai di kawasan CPI Makassar telah dimulai saat ini. Proyek ini menggunakan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) sebesar Rp25 miliar melalui APBN 2012.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel Soeprapto Budi Santoso mengungkapkan,saat ini telah ada beberapa pemasangan tiang pancang dan pengamanan pantai di sekitar lokasi. Soeprapto menyebutkan, pemasangan tembok laut dan pengamanan pantai untuk memperkokoh lahan CPI, khususnya di areal pembangunan plaza Karebosi Baru,yang nantinya didirikan di tengah-tengah kawasan jualan Pemprov Sulsel ini.

“Kita sudah mulai pengerjaannya. Insya Allah untuk plaza utamanya akan rampung tahun ini juga. Sehingga, tahun berikutnya kita sisa melanjutkan yang lain-lainya di CPI,”jelasnya. wahyudi

Read More >>

Hari ini, Kontingen Terbesar PON XVII Sulsel Berangkat



Kamis, 6 September 2012 
rombongan-PON.jpg
Makassar-Sebanyak 150 atlet yang akan berlaga di pada perhelatan PON XVIII di Pekanbaru berangkat hari ini, Kamis (6/9/2012). Sebelum bertolak ke Pekanbaru, Riau Rombongan yang  dipimpin langsung Koordinator Wilayah Ellong Tjandra akan transit di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 

Rombongan ini merupakan rombongan Kontingen Sulsel terbesar setelah beberapa cabang olahraga  telah berangkat dari tempat Training Centre-nya masing-masing langsung ke Riau beberapa hari sebelumnya. (*)

Read More >>

Menteri LH: SYL Luar Biasa



KAMIS, 06 SEPTEMBER 2012 

alt
MAKASSAR,  – Menteri Lingkungan Hidup Beerth Kambuaya menilai Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo sebagai orang yang ekstra ordinary person atau orang yang memiliki kemampuan di atas manusia biasa dengan kata lain luar biasa.
“Pak Syahrul itu ekstra ordinary person, sangat luar biasa. Jadi, jangan coba-coba jadi Gubernur Sulsel kalau belum bisa menyaingi kemampuan beliau. Tidak gampang menjadi Gubernur Sulsel,” kata Beerth di sela-sela pembekalan lingkungan hidup bagi pramuka, kerja
sama Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua, Kementrian Lingkungan Hidup dengan Kwartir Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan di Hotel Aryaduta, Makassar, Rabu, 5 September.
Menurutnya, Syahrul adalah pemimpin yang punya komitmen tegas dan jelas terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pasalnya, pendidikan dan kesehatan akan baik jika lingkungan baik.
“Kalau ada pemilihan kepala daerah, pilih yang care (peduli) terhadap lingkungan. Kalau saya orang Sulsel, saya akan pilih lagi Pak Syahrul,” ujarnya.
Dijelaskan, pelayanan publik termasuk menghadirkan lingkungan yang baik, merupakan tanggung jawab kepala daerah. Warga harus minum air yang bersih dan menghirup udara yang bebas polusi.
“Semua itu menjadi tanggung jawab kepala daerah. Jangan sekali-kali pilih pemimpin yang tidak care terhadap lingkungan karena dampaknya besar,” imbaunya.
Sementara itu, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengatakan, semua orang harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, termasuk Pramuka. “Sebagai warga negara, kita tidak boleh merugikan atau mengkorupsi apa yang ada di negeri ini,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, dalam 4 tahun terakhir, di Sulsel telah ditanam 125 juta pohon. Ia meyakini, memperbaiki lingkungan harus diubah dengan agenda intelektual, manajemen agenda, dan perilaku yang baik.
“Di Sulsel ini, RAB/RAK pembangunan jalan harus disertai dengan penanaman pohon dan tercantumkan anggarannya,” ungkapnya.
Tidak hanya di daerah dataran rendah, kata Syahrul, dataran tinggi dan pegunungan bahkan daerah-daerah yang sulit dijangkau juga dilakukan penghijauan dengan menggunakan program airseeding. Dana yang disiapkan untuk uji coba sebesar Rp20 miliar.
“Yang di atas gunung pun harus ditanami. Karena itu, harus dipantau dan dikendalikan,” tutur mantan Bupati Gowa dua periode ini.
Sebagai Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka, Syahrul berharap, organisasi tersebut ada di setiap sekolah dengan program utamanya penanaman pohon.
“Pramuka harus diajarkan cara-cara membibit dan harus ada instruktur di tiap kecamatan. Kita lakukan pelatihan melakukan pembibitan untuk hutan dan lingkungan hidup. Harus ada target, jangan sampai pelatihan itu menguap,” urainya. (mg3/eky/ute)

Read More >>

Pemprov Usulkan CPNS Guru Terpencil



Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov) mengusulkan ke Pemerintah Pusat agar dalam pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk formasi guru diutamakan guru di daerah terpencil. Pengangkatannya juga harus mengutamakan putra daerah kepulauan tersebut. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, Rabu, 5 September 2012 mengatakan bahwa penerimaan  CPNS khusus guru di Sulawesi Selatan untuk derah kepulauan dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Sebab, selama ini putra asli kepulauan tidak terakomodir dengan CPNS lainnya yang ada di Kabupaten/Kota lainnya.
Masalah yang kita hadapi sekarang, beberapa CPNS yang terangkat diformasi guru rata-rata  meninggalkan pulau setelah mengabdi satu atau dua tahun sebab mereka bukan putra daerah setempat. Untuk itu Agus menambahkan kalau pihaknya bersama Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan memperjuangkan masalah pengangkatan guru di pulau. Sejauh ini, masih banyak daerah kepulauan yang kekurangan tenaga  pengajar. Dan itu yang sering dikeluhkan oleh pemerintah Kabupten seperti Pangkep dan Selayar.
Ys/Hn ( Kamis, 7 September 2012 )

Read More >>

Rabu, 05 September 2012

Produksi Beras Sulsel 506.707 Ton



Rabu, 05 September 2012
MAKASSAR – Produksi beras Sulawesi Selatan (Sulsel) berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel sejak Januari hingga April 2012 telah mencapai 506.707 ton. Produksi terbanyak dihasilkan oleh Kabupaten Pinrang.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sulsel Khaerul Agus mengatakan, perhitungan tersebut dihasilkan dari pendataan industri penggilingan padi 2012 atau PIPA12 yang dilakukan secara complete enumeration atau sensus lengkap di seluruh kabupaten/ kota dengan 17.341 perusahaan dan usaha.

“Hasilnya kami memperoleh data produksi beras telah mencapai 506.707 ton dari 842.895 ton gabah yang digiling pada industri yang berlokasi tetap maupun keliling berasal dari industri besar hingga kecil,”kata dia.

Namun dari seluruh produksi beras di Sulsel tersebut, tidak semuanya diserap Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Sulsel.“Memang tidak semua gabah yang ada di Sulsel diserap Bulog,” ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sulsel Rahman Daeng Tayang secara terpisah.

Menurut Rahman, hanya separuh dari produksi petani di Sulsel yang biasanya diserap Bulog dengan harga pasar yang telah ditentukan.Beberapa petani khususnya yang memproduksi beras dikalangan industri kecil dan mikro tidak melepas berasnya ke Bulog melainkan dikelola sendiri. Prognosa pengadaan beras dari Bulog sejak Januari hingga April atau di kuartal I/2012 mencapai 180.267 ton atau 22% dari total prognosa yang ingin dicapai Bulog tahun ini sebesar 526.000 ton.

Sementara per Agustus lalu telah terealisasi 272.000 ton atau 52% dari target prognosa. Perhitungan BPS masih dilanjutkan hingga kini untuk mengetahui perkembangan produksi beras di kuartal II/2012.Ada kecenderungan,di kuartal II/2012 daerah penghasil beras akan bergeser dari Pinrang. Beberapa daerah seperti Sidrap dan Sengkang tengah memasuki panen paruh kedua.

 Dengan pertumbuhan produksi beras yang kian besar di Sulsel,harapan akan surplus beras terbuka lebar. Apalagi melihat perkembangan produksi beras dari Mei 2011 ke April 2012, telah ada 1.328.512 ton dari 2.211.144 gabah kering giling (GKG), dengan daerah penghasil paling tinggi masih dipegang Pinrang disusul Sidrap, Bone,Wajo dan Gowa. rahmat hardiansya

Read More >>

2.499 Koperasi Sulsel Tak Aktif



RABU, 05 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR,  – Saat ini lembaga keuangan di luar bank atau yang biasa disebut koperasi, yang tercatat di Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel, sebanyak 8.214 koperasi dari 24 kabupaten atau kota. Namun sayangnya, sebanyak 2.499 koperasi yang sudah tak aktif saat ini atau sekitar 26 persen.
Menurut Humas Dinas Koperasi dan UKM, Khaeruddin, di ruang Bidang Kelembagaan Koperasi, Selasa 4 September, dari 8.214 koperasi, yang aktif dan masih berjalan hingga saat ini hanya sebnyak 5.715 koperasi.
Ada banyak kemudahan yang bisa didapatkan masyarakat dalam meminjam sejumlah dana di koperasi, apalagi ia merupakan anggota dari koperasi tersebut.
“Slogan koperasi, dari anggota untuk anggota, berbeda dengan lembaga keuangan lainnya seperti bank. Dengan suku bunga yang rendah, mampu meringankan beban anggotanya dalam meminjam sejumlah dana,” ungkapnya.
Ketidakaktifan sebuah koperasi, lanjutnya, biasanya sering terjadi karena pengurusnya meninggal dunia. Selain itu, kadang koperasi tersebut berpindah alamat yang kemudian tidak lagi terdaftar di Dinas Koperasi dan UKM kabupaten atau kota. Dengan kata lain, semuanya kembali bergantung kepada para pengurusnya lagi.
“Kita disini hanya sebagai pemantau dan mengumpulkan data dari seluruh kabupaten/kota dan Sulawesi Selatan. Jadi semuanya dikembalikan lagi kepada Dinas Koperasi dan UKM daerah masing-masing, karena mereka yang paling berperan penting,” katanya.
Sumber dana sebuah koperasi, tambah Khaeruddin, selain dari dana internal para anggota­nya, juga ada dana eks­ternal. Itu seperti dana pinjaman dari pihak bank atau pun dana suntikan dari pihak ketiga. (mg3/ami)
Read More >>

Dilema IPM dan Rakyat Buta Huruf Sulsel (bagian III)


RABU, 05 SEPTEMBER 2012 

Ridwan IR
Peneliti Buta Aksara

Program pemberantasan buta huruf adalah sesungguhnya program nasional yang telah dilakukan sejak tahun 1995 oleh Kemendiknas dan lebih terarah perencanaan dan pelaksanaannya khususnya di Sulsel sejak ditanda tanganinya kesepatan bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi Sulsel dan para bupati di Kabupaten Bone tahun 2006, yang memuat kesepatan pendanaan program oleh Pemerintah Pusat 50 persen dan pemerintah daerah 50 persen.
Dengan target sisa 5 persen penyandang buta huruf di Sulsel dan nasional. Pelaksanaan kesepakatan tersebut berjalan dengan baik pada tingkat pelaksanaan program dengan berbagai variasi yang bertujuan menemukan jumlah warga buta aksara, mengajak mereka ke dalam program, dan berupaya mempertahankan kepesertaan warga dalam program hingga akhir pelaksanaan program.
Tersebutlah program itu sebagai Program KF (keaksaraan fungsional) KBU (Kelompok Belajar Usaha), KUM (keaksaraan usaha mandiri), TBM (tamana bacaan masyarakat), namun dalam pelaksanaan tetaplah menyisakan masalah dan dilema pada sisi lain karena adanya beberapa hal.
Pertama, bahwa tidak semua pemerintah kabupaten/kota melakukan dukungan penuh melalui penganggaran maksimal sesuai kesepakatan di atas sehingga tidak melahirkan intervensi pemberantasan buta huruf secara komperhensif dan berkelanjutan.
Kedua, dari capaian data warga buta huruf di Sulsel yang ditemukan, mereka masih enggan (80 persen) untuk ikut dalam program KF karena faktor umur (80 persen berumur di atas 45 tahun), rasa malu pada anak-anak mereka dan lingkungannya, tidak adanya waktu luang, karena sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan bahkan telah memiliki kesibukan rutin yang tidak bisa mereka tinggalkan karena menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, merasa tidak perlu ikut karena usia yang sudah lanjut, Tenaga pendidik yang kurang dari sisi jumlah dan kompetensi personal, sarana pembelajaran yang tidak mendukung/tidak memadai.
Ketiga, pelaksanaan progam KF pada warga belajar ada yang berulang pada komunitas yang sama dengan nama dan tempat yang sama dari tahun ke tahun (manipulasi data dan tempat), juga ada yang mengajukan program tapi sasaran program belum ada.
Sehingga jumlah warga yang diintervensi oleh program tidak pernah berkurang, hal ini terjadi karena verifikasi pelaksana program dan calon sasaran tidak pernah dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh sesuai tuntutan Juknis pelaksanaan program.
Keempat, pelaksanaan program pendukung ditengarai tidak tepat sasaran sehingga tidak dapat mendukung program KF, hal ini terjadi pada program KBU/KUM yang menjadi sasaran program 70 persen bukanlah warga belajar KF.
Sehingga upaya untuk mempertahankan minat dan semangat warga belajar KF tidak dapat di upayakan hingga akhir program, dan jumlah dari warga belajar yang mengikuti hingga akhir pelaksanaan progam hanya berkisar 10-30 persen saja dari 10 orang per kelompok belajar.
Pada program TBM juga demikian yang terjadi dimana sasaran pelekasana TBM di tengarai 70 persen bukanlah berada pada lokasi dan kelompok pelaksanaan program KF.
Sehingga upaya untuk melestarikan dan meningkatkan kemampuan membaca warga belajar KF selama mengikuti dan terlebih pasca pelaksanaan program tidak dapat tercapai dan mengakibatkan mereka kembali menjadi buta huruf setelah 6 bulan dan satu tahun kemudian serta tetap tidak mengurangi jumlah buta huruf di Sulsel dan Indonesia pada umumnya.
Kelima, ada kesan yang keliru oleh pelaksana program, tak kala mereka melakukan intervensi program pada jumlah warga buta huruf, maka jumlah intervensi itu pula yang dihitung sebagai warga tuntas buta aksara setiap tahunnya, namun tidak demikian jika kita menelaah permasalahan dan dilema di atas, dimana jumlah yang diintervensi pada awal program berjumlah besar (misalnya 25.000 orang) dan pada akhir program hanya tersisa 10-30 persen atau 1 hingga 3 orang perkelompok KF.
Sehingga perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap jumlah yang bebas buta aksara setelah pelaksanaan program dengan jumlah yang katanya telah diintervensi besar di Sulsel selam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Keenam, bahwa dengan membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat terlebih lima tahun terakhir, telah memberi kontribusi pada membaiknya kualitas hidup masyarakat di satu sisi dan pada sisi lain mereka yang menyandang status buta huruf dari sebagian besar penduduk lansia (umur 45 tahun keatas) akan semakin panjang umur mereka dan enggan untuk ikut dalam program KF.
Sehingga akan tetap menjadi penyumbang jumlah buta aksara di Sulsel 5 hingga 20 tahun ke depan dan tetap akan memengaruhi capain indeks pembangunan manusia di Sulsel khususnya jika tidak dilakukan upaya-upaya cerdas sesegera mungkin secara berkelanjutan.
Harapan Ke depan
Karena capaian indeks IPM di Indoensia menggunakan angka agregat dari data BPS bukan data Diknas, maka perlu dilakukan upaya kompromi untuk menyatukan kedua data yang ada saat ini.
Upaya ini sesungguhnya telah dilakukan dengan melakukan Penanda tangankan MOU antara pihak Diknas Sulsel dengan BPS Sulsel Tahun 2010 lalu, tetapi hingga hari ini belumlah ada hasil yang dapat dijadikan rujukan bersama.
Sehingga hal tersebut perlu segera di realisasikan kembali secara bersama dalam bingkai kerjasama yang lebih nyata dan cepat.
Capaian indeks IPM oleh daerah lain bahkan secara nasional tidak perlu merisaukan kita karena kita juga belum tahu persis apakah permasalahan yang dihadapi di Sulsel ini tidak terjadi di tempat lain atau bahkan mereka telah maju dengan melakukan manipulasi yang lebih parah dan sistematis (di negara kita ini apa sih yang tidak bisa dilakukan).
Kini saatnya kita jadikan capain IPM 2011/2012 sebagai tonggak kesadaran baru untuk menuju pada kondisi nyata antara capaian sekian ratus penghargaan terhadap prestasi pembangunan di Sulsel dengan capain IPM secara maksimal (minimal 75 point) dan rasional yang tidak melahirkan gap/jarak yang jauh dengan realitas sesungguhnya di daerah atau Sulawesi selatan secara keseluruhan, semoga! (*)
Read More >>

Menteri Lingkungan Hidup RI Kagumi Gubernur Sulsel


Rabu, 5 September 2012

Makassar,–Menteri Lingkungan Hidup RI, Beerth Kambuaya, memberikan pujian kepada Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo saat melakukan kunjungan ke Makassar Rabu (5/9/2012). Bert mengaku kagum terhadap sosok seorang Sahrul, dan menilai SYL sebagai orang yang ekstra ordinary person atau orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia biasa.


“Pak Syahrul itu sosok yang ekstra ordinary person, sangat luar biasa. Jadi, jangan coba-coba jadi Gubernur Sulsel kalau belum bisa menyaingi kemampuan beliau. Tidak gampang menjadi Gubernur Sulsel,” kata Beerth.

Ia mengungkapkan, Syahrul adalah pemimpin yang punya komitmen tegas dan jelas terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pasalnya, pendidikan dan kesehatan akan baik jika lingkungan baik.

“Kalau ada pemilihan kepala daerah, pilih yang care terhadap lingkungan. Kalau saya orang Sulsel, saya akan pilih lagi Pak Syahrul,” ujarnya.

Menurutnya, pelayanan publik termasuk menghadirkan lingkungan yang baik, merupakan tanggung jawab kepala daerah.

Beert ke Sulsel dalam rangka memberikan pembekalan lingkungan hidup bagi pramuka yang dikerjasamakan dengan Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua, Kementerian Lingkungan Hidup dengan Kwartir Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, di Hotel Aryaduta Makassar.[KM2]

Short URL: http://www.kabarmakassar.com/?p=12902
Read More >>

Pemprov Siap Antisipasi Kemarau



RABU, 05 SEPTEMBER 2012 

MAKASSAR, — Pemerintah Pro­vinsi Sulsel menegaskan siap mengantisipasi musim kemarau, terutama menjaga produksi hasil pertanian di Sulsel, khususnya jenis padi.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang bahkan mengaku optimis, jika musim kemarau tahun 2012 ini tidak akan banyak berpengaruh pada produksi pertanian di Sulsel.
“Untuk tahun ini Insya Allah kita masih optimis. Soal produksi padi, saya lihat tidak banyak berpengaruh, sekarang ini sementara panen dipantai barat seperti Pinrang serta di Pangkep beberapa waktu kedepan juga akan panen,” kata Agus di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa, 4 September.
Meski mengaku bahwa beberapa wilayah di Provinsi Sulsel, seperti pantai barat itu memang sudah masuk musim kering, tetapi sebagaian lagi wilayah di pantai timur itu masih ada hujan.
“Dua tahun terakhir memang anomali cuaca di Sulsel cenderung ke basah, artinya musim hujan cenderung lebih panjang. Sekarang ini kita memang selalu mengantisipasi musim apapun, khususnya pada sector pertanian kita,” katanya.
Hanya saja, lanjut dia, untuk antisipasi jangka panjang musim kemarau ini, seharusnya bukan hanya pada Provinsi Sulsel, tetapi secara nasional juga harus melakukan antisipasi dengan memperbaiki lingkungan, terutama daerah-daerah yang bisa menahan air ketika musim hujan tiba.
“Musim kemarau ini pada sector pertanian khususnya padi, kita sudah mengantisipasi. Jadi, kedepan kita akan memberikan padi yang tahan kering dengan orientasi hanya butuh sedikit air, dan sekarang itu kita sudah siapkan,” tandasnya.
Sejauh ini, masih kata mantan Ketua DPRD Sulsel ini, Provinsi Sulsel telah memiliki padi ladang yang produksinya bisa menghasilkan antara 5 sampai 6 ton. Pengembangan jenis padi ini, kata dia akan terus didorong penggunaaannya di daerah kering.
Meski penanganan musim kemarau tahun 2012 ini masih bisa diantisipasi, tetapi mulai saat ini pihaknya berharap agar semua pihak bisa melakukan antisipasi musim kering yang akan terjadi pada tahun 2013 mendatang.
“Musim kemarau tahun depan harus kita antisipasi dari sekarang, sebab anomali cuacanya lebih panjang pada kondisi kering (kemarau). Kalau untuk tahun ini, saya yakin kita masih bisa mengatasinya karena ini kan sudah masuk bulan 9, dan biasanya kalau bulan-bulan 11 itu sudah mulai hujan kembali,” jelasnya.
Selain itu, Agus juga mengaku bahwa sampai sekarang belum ada laporan petani di Sulsel yang gagal panen sebagai dampak kekeringan.
“Justru yang biasa ada adalah serangan hama penyakit. Cuaca memang sekarang cukup panas, tetapi  sektor pertanian kita belum ada yang terganggu,” katanya.
Ia menambahkan, ka­lau musim kering di Sulsel ber­kepanjangan, biasanya masya­rakat petani akan mengganti tanamannya menjadi Palawija atau Jagung.
“Jadi memang akan kelihatan, kapan musim kemarau panjang maka tanaman padi luas areal-nya semakin menurun, dan luas pertanaman jagung akan meningkat, ini yang terjadi pada tahun 2010 lalu,” ujarnya.
Pemprov Sulsel, lanjutnya, juga menganjurkan petani untuk menanam tanaman yang dibutuhkan saat musim seperti sekarang. “Kedelai kan masih kita impor, termasuk jagung yang permintaannya tinggi dan harganya bagus, itu yang kita anjurkan,” katanya. (eky/ute)
Read More >>

Selasa, 04 September 2012

Dilema IPM dan Rakyat Buta Huruf Sulsel (bagian II)



SELASA, 04 SEPTEMBER 2012 

Ridwan IR
Peneliti Buta Aksara
 
Dalam hitungan peringkat  IPM digunakan angka yang bersumber dari data Pemerintah dalam hal ini BPS. Dari data BPS yang rilis oleh Kemendiknas diatas (520.247 orang) terdapat selisih yang sangat tidak rasional dengan data Dinas Pendidikan Sulsel (68.083 orang).
Data BPS adalah hasil Sensus sedang data Diknas adalah data dari hasil survey internal 2006,2009 dan di perbaharui pada 2010 yang lalu.
Dari capaian angka IPM Sulsel, dan Data Diknas Sulsel di peroleh jawaban bahwa hal tersebut terjadi karena jumlah buta huruf  di Sulse yang berumur 45 tahun ke atas masih cukup banyak, yang tidak masuk dalam daftar rencana intervensi Pemerintah karena adanya kendala-kendala dilapangan.
Sehingga yang masuk dalam skala perencanaan adalah mereka yang buta huruf dan berumur 45 tahun ke bawah atau berumur 15 tahun hingga 45 tahun. Namun dari uraian data jumlah diatas sesungguhnya persoalan mendasarnya adalah tidak validnya data buta huruf di Sulsel yang harus menjadi acuan intervensi program dan data resmi yang dirilis ke publik.
Di atas terjadi dualisme data yang saling mengelaim kebenarannya satu dengan lainnya. Sehingga perlu segera dilakukan pembenahan, penyatuan data resmi yang menjadi acuan intervensi dan publisitas.
Pendataan warga buta huruf di Sulsel telah dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2006 dan 2009 yang dilakukan oleh sebaran TDL/FDI di sebagian besar kabupaten di Sulsel.
Pelaksanaan pendataan tersebut sesungguhnya menyisakan masalah serius yang justru menjadi awal kisruhnya persoalan data buta huruf di Sulsel.
Pada pelaksanaan pendataan tersebut oleh TLD/FDI justru tidak dapat menjangkau semua area pendataan di satu kabupaten/kota, karena kendala kurangnya tenaga pendata (TLD/FDI), luasnya area pendataan, beratnya medan, waktu pendataan yang singkat, serta tidak adanya dana pendataan yang memadai secara khusus.
Biaya pendataan ditanggung oleh para TLD/FDI sendiri sehingga menyebabkan pendataan yang dilakukan sesungguhnya tidak dapat menghasilkan data warga belajar yang maksimal dan mendekati jumlah sebenarnya.
Karena keterbatasan dana tersebut itu pula para pendata warga buta  huruf hanya menjangkau daerah tugas mereka pada satu kecamatan dan beberapa desa di sekitar desa binaannya atau tempat tugas mereka.
Ini berakibat serius pada tidak dilakukannya pendataan pada sebagian besar daerah buta huruf di Sulsel. Misalnya di Kabupaten Luwu Timur (2006 dan 2009) terdapat 11 Kecamatan dengan 99 desa.
Sementara tenaga TLD/FDI yang melakukan pendataan hanya 7 orang, sehingga daerah pendataan yang dapat dijangkau (tahun 2006) adalah 5 kecamatan (45 persen) dan 10 desa (10 persendengan jumlah warga buta huruf yang diperoleh pada kisaran 4000-an orang.
Pada pendataan Tahun 2009 di jangkau 7 Kecamatan (63 persendan 18 Desa (18 persendengan perolehan tambahan warga buta huruf sekitar 9000-an orang.
Keadaan ini terjadi di hampir semua daerah Kabupaten/Kota di Sulsel sehingga data warga belajar yang dilakukan dengan sistem photo, nama, alamat dan tanda tangan langsung pada setiap lembar pendataan personal warga buta huruf tidak dapat menghasilkan akurasi data sesungguhnya yang mendekati kebenaran absolut jumlah warga buta huruf berumur 15 tahun keatas.
Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh para TLD/FDI tersebut di perkirakan hanya dapat menghasilkan warga buta huruf berumur 15 tahun keatas kurang lebih 13-14 persen saja dari total populasi warga buta huruf di Sulsel dengan cakupan wilayah pendataan kurang lebih 70 persen kecamatan dan 20 persen desa.
Bahwa hasil pendataan tersebut akurasi kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan adalah memang betul karena menggunakan lembaran data personal yang memuat hampir semua informasi menyangkut pribadi warga buta huruf yang juga ditanda tangani langsung oleh para Kades/Sekertaris di tempat/area pendataan.
Sehingga jika disandingkan dengan data hasil sensus BPS Sulsel yang menjadi acuan Kemendiknas sebesar 520.247 orang (tahun 2009) adalah menjadi suatu perbedaan yang wajar dan rasional yang mesti diantisipasi dengan melakukan pendataan ulang secara idependen.
Pendataan harus dilakukan segera untuk menemukan satu angka pasti yang mendekati pada realitas jumlah sesungguhnya populasi warga buta huruf di Sulsel.
Pendataan harus dilakukan oleh oleh lembaga independen yang tidak berapiliasi langsung dengan kedua lembaga pemilik klaim data yang telah ada dengan tetap menjadikan data tersebut sebagai pembanding dan bahan klarifikasi di lapangan.
Dengan adanya upaya pendataan ulang secara independen dengan sistem akurat (mungkin sistem Diknas), maka akan diperoleh satu data acuan untuk melakukan perencanaan intervensi secara komperhensif pemecahan masalah warga buta huruf di Sulsel, bahkan mungkin bisa menjadi pailot projeck penanggulangan buta aksara di Indonesia. 
Dilema Program
Program pemberantasan buta huruf adalah sesungguhnya program nasional yang telah dilakukan sejak tahun 1995 oleh Kemendiknas dan lebih terarah perencanaan dan pelaksanaannya khususnya di Sulsel sejak ditanda tanganinya kesepatan bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi Sulsel dan para bupati di Kabupaten Bone tahun 2006, yang memuat kesepatan pendanaan program oleh Pemerintah Pusat 50 persen dan pemerintah daerah 50 persen.
Dengan target sisa 5 persen penyandang buta huruf di Sulsel dan nasional. Pelaksanaan kesepakatan tersebut berjalan dengan baik pada tingkat pelaksanaan program dengan berbagai variasi yang bertujuan menemukan jumlah warga buta aksara, mengajak mereka ke dalam program, dan berupaya mempertahankan kepesertaan warga dalam program hingga akhir pelaksanaan program.
Tersebutlah program itu sebagai Program KF (keaksaraan fungsional) KBU (Kelompok Belajar Usaha), KUM (keaksaraan usaha mandiri), TBM (tamana bacaan masyarakat), namun dalam pelaksanaan tetaplah menyisakan masalah dan dilema pada sisi lain karena adanya beberapa hal. (*)
Read More >>

SYL Kuliahi Ribuan Mahasiswa PPs UNM


SELASA, 04 SEPTEMBER 2012


MAKASSAR, – Ciri-ciri orang cerdas adalah selalu galau, risau dan khawatir akan kekurangan ilmu yang dimilikinya. Olehnya ada keinginan untuk selalu menuntut ilmu, tidak suka berdiam diri. Jadi, orang yang menuntut ilmu S2 dan S3 adalah orang cerdas.
Pernyataan tersebut disampaikan, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, saat membawakan kuliah umum di Gedung Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (PPs UNM), Senin, 3 September.
Dihadapan ribuan mahasiswa PPs UNM yang didominasi mahasiswa baru tahun akademik 2012/2013, Syahrul menyampaikan mahasiswa S2 dan S3 harus memiliki kemampuan pemikiran yang lebih linear, lebih beralur dan berpola terutama dalam menyelesaikan masalah. Harus pula memiliki  agenda aksi yang terukur, terperinci, dan terpogram. Selanjutnya memiliki kemampuan untuk mengolah atau menciptakan opini publik.
“ Yang terpenting juga adalah memiliki sikap dan prilaku yang berkarakter baik, “ katanya.
Untuk membuktikan kemampuan ilmu yang kita miliki, lanjut Syahrul, orang harus berani keluar dari zona nyaman, mengambil tantangan baru, dan menciptakan zona-zona nyaman yang baru, “ ujarnya.
Sebelum Syahrul, Dr dr Nuchrawati Ulla, MM, juga  membawakan  materi dengan tema Pemberdayaan Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Berbasis Ekonomi Kerakyatan. Menurutnya, ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat untuk mempertahankan berbagai aspek kehidupan. 
Perguruan tinggi  harus menjadi agent of change dan memposisikan masyarakat sebagai pelaku ekonomi utama dan terutama. Perguruan tinggi juga diharapkan mendesain peta ekonomi berbasis kerakyatan yang taat hukum dan politik.
“Juga menciptakan wirausaha muda dalam berbagai bidang, “ ucapnya.
Wakil Ketua I Palang Merah Indonesia ini juga berpesan agar PT semisal UNM harus menjadi pelopor pembaharuan dan perubahan dalam dimensi PT yang semakin tumbuh, berkembang, dan maju seiring dengan peradaban, modernisasi dan globalisasi.
“Ini tantangan, namun untuk mengubah Indonesia lebih baik harus diambil resiko untuk menghadapinya, “ tegasnya.
Diakhir membawakan kuliah, Syahrul menyempatkan diri menghibur mahasiswa dengan menyanyikan lagu “Sudah Kubilang “ sebuah tembang kenangan yang dipopulerkan oleh Rafika Duri. (*/ami)
Read More >>

Gubernur Halal Bihalal dengan Masyarakat Selayar

Selasa, 4 September 2012

Selayar Sulsel ,–Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, menghadiri acara halal bihalal
dengan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, di Masjid Raya Benteng, Selasa (4/9).
Acara tersebut dihadiri ribuan warga yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh
agama, tokoh pemuda, dll.

“Kabupaten Selayar ini adalah salah satu daerah terbaik di Sulsel. Karena itu, kita
harus berterima kasih kepada bupati dan semua elemen masyarakat,” kata Syahrul.

Ia mengungkapkan, Sulsel menjadi provinsi terbaik di Indonesia karena ada Kabupaten
Kepulauan Selayar sebagai penyokong. Apalagi, di sektor perikanan dan kelautan,
mampu memberikan kontribusi untuk peningkatan perekonomian di Sulsel.

“Sekarang ini, tidak ada provinsi yang kalah Sulsel. Kita provinsi terbaik,”
ungkapnya.

Sebagai salah satu provinsi terbaik, lanjutnya, Sulsel mengalami banyak kemajuan.
Agama makin baik, ekonomi mengalami pertumbuhan yang signifikan, dan masyarakat
semakin cerdas karena pendidikan mereka semakin tinggi.

“Indikatornya, jumlah calon jemaah haji kita terbesar di Indonesia. Umroh kita juga
terbanyak tiap tahunnya. Ini menunjukkan agama yang makin baik karena didukung oleh
ekonomi yang makin meningkat,” imbuhnya.

Sementara, Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar H Syahrir Wahab, mengaku sangat
berterima kasih atas perhatian Gubernur Sulsel untuk kemajuan Kabupaten Kepulauan
Selayar.

“Pak Syahrul ada pemimpin yang sangat perhatian terhadap rakyatnya,” kata Syahrir
Wahab.

Dalam kesempatan itu, Syahrir Wahab juga meminta Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin
Limpo untuk meresmikan Masjid Nurul Yatim di Kelurahan Bonea.

“Masjid ini dulu yang pembangunannya atas sumbangan dari Pak Gubernur,” imbuhnya.(hms/KM)

Short URL: http://www.kabarmakassar.com/?p=12822
Read More >>